Home » Kajian & Hikmah » Pentingnya Akhlak Mulia dalam Mewujudkan Kehidupan Sosial yang Harmonis

Pentingnya Akhlak Mulia dalam Mewujudkan Kehidupan Sosial yang Harmonis

Abdulloh Azzam 08 Okt 2024 230

Syarah Kitab Al Arba’in Ar Rambaniyyah fii I’daad Khair Al Bariyyah
(Kumpulan 40 Hadits tentang Pembentukan Generasi Terbaik)

karya Assoc. Prof. Dr. KH. Akhmad Alim Lc., MA.

Oleh: Ust Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofiya Kota Bogor)

عن عبدالله بن عمر : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أحبُّ الناسِ إلى اللهِ أنْفَعُهُمْ لِلنّاسِ، وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سُرُورٌ يدْخِلُهُ على مسلمٍ، أوْ يكْشِفُ عنهُ كُرْبَةً، أوْ يقْضِي عنهُ دَيْنًا، أوْ تَطْرُدُ عنهُ جُوعًا، ولأنْ أَمْشِي مع أَخٍ لي في حاجَةٍ أحبُّ إِلَيَّ من أنْ اعْتَكِفَ في هذا المسجدِ، يعني مسجدَ المدينةِ شهرًا، ومَنْ كَفَّ غضبَهُ سترَ اللهُ عَوْرَتَهُ، ومَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ، ولَوْ شاءَ أنْ يُمْضِيَهُ أَمْضاهُ مَلأَ اللهُ قلبَهُ رَجاءً يومَ القيامةِ، ومَنْ مَشى مع أَخِيهِ في حاجَةٍ حتى تتَهَيَّأَ لهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يومَ تَزُولُ الأَقْدامِ، [وإِنَّ سُوءَ الخُلُقِ يُفْسِدُ العَمَلَ، كما يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ]

Dari Abdullah bin Umar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat diantara mereka. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membahagiakan saudara muslimnya atau meringankan beban hidupnya atau melunaskan hutangnya atau menghilangkan rasa lapar dari perutnya dan sungguh aku lebih mencintai berjalan bersama saudaraku untuk menyelesaikan masalahnya daripada itikaf di masjidku ini selama sebulan. Dan siapa saja yang menahan amarahnya maka Allah akan menutupi aibnya dan barang siapa yang bisa mengendalikan amarahnya padahal ia mampu menyalurkannya maka Allah akan penuhi hatinya dengan rasa harap pada hari kiamat.(buruknya akhlak dapat merusak amal sebagaimana cuka dapat merusak madu yang manis)

Islam menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan saling memahami kebudayaan serta kultur masing-masing. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat Al Hujurat ayat 13;

 یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرࣲ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبࣰا وَقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوۤا۟ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ خَبِیرࣱ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa ayat ini turun karena perkataan Tsabit bin Qais kepada seseorang yang tidak mau memberikan tempat duduk baginya di Majelis Rasulullah. Ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas kepada orang tersebut hingga lantas didengar oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun merespon hal tersebut dengan berkata kepada Tsabit bin Qais, “Wahai Qais, lihatlah wajah-wajah orang di sekitarmu, bagaimana menurutmu ?”. Tsabit menjawab,”aku melihat ada yang berkulit putih, hitam dan juga merah ya Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan,”Maka sungguh wahai Tsabit, tidaklah engkau mengungguli mereka kecuali dengan ketakwaan.” Selanjutnya Rasulullah menasehati orang yang tidak mau melapangkan majelisnya untuk Tsabit bin Qais dengan ayat 11 dari surat Al Mujadilah.

Ibnu Katsir menambahkan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa semua manusia berkedudukan mulia sebab ia bernasab kepada Adam dan Hawa. Namun, kemuliaan itu kelak akan saling mengungguli karena perbedaan ketakwaan diantara mereka.

Banyak yang menganggap bahwa ketakwaan selalu berbentuk kesalehan individual. Padahal pada kenyataannya, Takwa mencakup dimensi individu dan sosial di dalam kehidupan seorang muslim. Takwa menunjukkan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT dengan patuh dan taat menjalani ibadah yang sifatnya individu. Takwa juga memperlihatkan bahwa seorang hamba yang patuh kepada Rabbnya tidak akan pernah mengabaikan kehidupan sosialnya di masyarakat. Justru di dalam beberapa ibadah yang dikenal berkaitan dengan ikatan individu dengan Allah SWT menjadi bertambah nilainya karena dilakukan bersama-sama contohnya adalah shalat fardhu berjamaah yang bernilai 27 derajat lebih tinggi daripada shalat sendirian.

Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa diantara hamba-hamba Allah SAW di muka bumi ada yang paling dicintai oleh-Nya. Kecintaan Allah tersebut ada pada 4 hal yang dilakukan hambaNya untuk orang lain.

Pertama, Memasukkan kebahagiaan ke dalam hati saudaranya sesama muslim. Hal ini dimaksudkan bahwa budaya yang harus dibangun di masyarakat adalah budaya bahagia secara berjamaah. Masing-masing pribadi tidak hanya berpikir dan mengusahakan kebahagiaannya sendiri melainkan juga kebahagiaan orang lain. Setiap hukum dan norma yang ditegakkan berujung pada kebahagiaan seluruh lapisan masyarakat bukan segelintir orang saja.

Kedua, Meringankan beban yang diderita oleh saudaranya. Masyarakat yang terbaik tidak pernah luput dalam benaknya berpikir bahwa persoalan yang terjadi di masyarakat begitu kompleks. Oleh karenanya, masyarakat baik yang tradisional maupun modern harus memiliki kepedulian dalam menuntaskan masalah yang terjadi di lingkungannya. Masalah itu bisa terbeban kepada personal dan bisa juga menjadi beban bagi masyarakat secara sosial. Menuntaskan persoalan yang yang terjadi di masyarakat sebenarnya mengambil langkah untuk membentuk lingkungan yang aman dan kondusif untuk tinggal dan beribadah kepada Allah SWT.

Ketiga, Membantu melunaskan hutang orang lain. Secara spesifik Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa diantara amal yang dicintai oleh Allah SWT adalah membantu melunaskan hutang orang lain. Islam sangat memperhatikan utang-piutang sebagai bagian dari muamalah seorang muslim. Islam bahkan melarang untuk mengambil selisih keuntungan dari utang-piutang karena hal itu menunjukkan keserakahan dan ketiadaan empati. Tidaklah seorang berhutang kecuali memang dia membutuhkannya untuk kemaslahatan primer dirinya ataupun keluarganya. Oleh karenanya di dalam Islam, utang-piutang termasuk ke dalam transaksi tabarru’ (charity atau non profit). Pihak yang berhutang berhak atas bantuan terhadap persoalan finansial yang ia hadapi selama hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan tidak bertujuan untuk mengejar kesenangan terhadap kebutuhan yang tersier atau kemewahan. Islam tidak menganjurkan adanya utang untuk sekedar memenuhi hasrat gengsi.

Keempat, Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk memberi makan orang lain. Hal ini tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi sebagian yang lain, hal tersebut sangatlah bermakna sebab membantu dirinya untuk melanjutkan kehidupan. Dalam capaian ruang ekonomi yang lebih besar, persoalan makan dan minum adalah problem inti untuk mendukung produktivitas. Menghilangkan lapar berarti menyediakan energi bagi seseorang untuk produktif dalam beraktifitas. Ia menjadi lebih semangat bekerja untuk mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya. Hal tersebut merupakan bagian daripada ibadah seseorang dalam pandangan islam.

Keempat hal sebelumnya dirangkum oleh Nabi Muhammad SAW menjadi sebuah dorongan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Bahkan, Beliau membandingkan besarnya pahala membantu menyelesaikan persoalan orang lain dengan pahala i’tikaf di Masjid Nabawi. Dan Nabi SAW lebih menyukai untuk membantu menyelesaikan persoalan orang lain. Amalan yang bermanfaat bagi kehidupan sosial ganjarannya melebihi ganjaran amalan seseorang yang hanya diperuntukkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Terlebih lagi di dalam perekonomian modern sering kali terjadi ketidakstabilan ekonomi yang berdampak pada banyak orang. Hal tersebut menjadi pintu yang terbuka lebar bagi setiap muslim untuk saling membantu dan bahu membahu menyelesaikan masalah ummat.

Terakhir, Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan yang paling sempurna bagi umat manusia mengajarkan kepada setiap muslim untuk bisa menjaga amarahnya. Marah adalah bagian daripada karakter manusia, namun demikian dampak dari amarah yang tidak dapat dikendalikan adalah rusaknya tatanan relasi dan hubungan sesama manusia. Marah yang tidak dikendalikan membuat seseorang menjadi pendendam. Dan bagi siapapun yang hatinya dipenuhi dendam akan kesulitan untuk merasakan ketenangan dalam menjalani kehidupan dunia. Pun di akhirat ia dijauhkan dari rasa harap atas rahmat Allah SWT ketika dihitung amalnya.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 63         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 198       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Hot Categories