Home » Kajian & Hikmah » Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin 02 Jan 2026 192

 

 

 

Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia)

Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata:

“لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ”

“Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.”

Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan bahwa surah ini sungguh cukup sebagai pedoman hidup, nasihat, dan bimbingan bagi seluruh manusia.

Kalam Allah SWT dalam Surat Al-‘Ashr yang singkat tetapi padat mendapatkan penjelasan yang sempurna dalam diri Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik teladan dalam mengelola dan memanfaatkan waktu. Rutinitas harian Beliau, dari fajar hingga fajar berikutnya, senantiasa padat namun tertata, penuh makna dan manfaat. Energinya sungguh luar biasa sehingga beliau hampir tidak pernah mengeluh kelelahan. Demikianlah yang dilukiskan dalam satu paragraf dari buku The Life of Muhammad, yang telah menginspirasi Maryam Jameelah untuk memilih jalan Islam setelah ajaran ‘Yahudi’, ‘Nasrani’, bahkan ‘Ateisme’ tidak kunjung memenuhi hasrat ruhaninya. Inilah satu cahaya dari berlian yang menerangi semesta, satu aspek saja dari pribadi agung yang serba-banyak (multifaceted).

Sebenarnya ada dua hal yang menjadi sebab Jameelah terpesona dengan keindahan Islam, seperti pernah ditulis dalam buku kecilnya “Why I Embraced Islam”: yang pertama adalah Pesona Al-Qur’an dan yang kedua adalah Pesona Muhammad SAW. Al-Qur’an dan Muhammad SAW, pesona keduanya bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang, karena pribadi Muhammad SAW pada hakikatnya adalah Al-Qur’an yang berjalan (the Living Quran). Apresiasi Muhammad SAW terhadap waktu tidak hanya terlihat dari mutiara hikmah yang keluar dari mulutnya yang mulia, tetapi amat jelas terwujud dalam sikap dan tingkah lakunya.

Nasihat Rasulullah SAW tentang waktu seperti terus terngiang-ngiang di telinga kita. Hidup di dunia ini terlalu singkat jika dibandingkan dengan perjalanan hidup abadi. Waktu adalah modal berharga yang diberikan Allah kepada semua makhluk-Nya. Maka, alangkah bodohnya seorang yang diberikan modal tetapi dihambur-hamburkannya.

Banyaknya modal tidaklah menentukan kuantitas dan kualitas suatu hasil. Keefektifan, menurut Steven R. Covey, terletak pada keseimbangan antara production (hasil) dan production capacity (kapasitas untuk menghasilkan). Seorang yang ‘berumur’ lebih pendek dari orang lain bukan berarti berkurang kesempatannya untuk beramal, karena waktu bersifat nisbi. Seorang ulama bahkan telah menasihatkan lebih dahulu kepadaku, bahwa jika akhir dari kehidupan adalah kematian, maka ‘panjang’ dan ‘pendeknya’ umur adalah sama. Yang disebut ‘panjang umur’, menurut nasihatnya, bukan sekadar lamanya usia, tetapi ketaatan yang berhasil dipadatkan ke dalamnya.

Bukankah banyak kita saksikan orang yang masih bernapas tetapi sudah ‘mati’, seperti halnya orang yang sudah mati tetapi tetap ‘hidup’ karena ketaatan dan amal salehnya. Rasulullah SAW menasihatkan kepada kita, agar menggunakan lima sebelum datang lima. Memanfaatkan kesempatan sebelum datangnya waktu ‘Ashr, menjelang terbenamnya matahari, ketika kebanyakan orang baru mulai menyadari kerugian yang dialaminya.

Seorang yang telah ‘merasa’ mampu memanfaatkan waktu pun hendaknya tidak merasa puas dengan pencapaiannya, karena orang yang beruntung adalah orang yang hari-harinya selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Jika sama saja hari ini dengan hari kemarin maka ‘merugi’-lah ia. Apalagi jika hari-harinya selalu lebih buruk dari hari sebelumnya, maka ‘tercela’-lah ia. Continuous improvement (perbaikan berkelanjutan) itulah yang akan mengasah ‘pisau’ amal kita, menuju kemenangan yang sejati. Allah SWT telah berfirman bahwa, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7).

Akhirnya, teringatlah aku pada sebuah epigram yang terpahat di Cloister Westminster Abbey, renungan seorang agamawan di usia senjanya:

“Dahulu,” katanya, “aku pernah bercita-cita mulia hendak mengubah dunia. Ketika aku merasa tak berhasil mewujudkannya, aku mulai berpikir untuk mengubah bangsaku dulu. Ketika tak juga berhasil, aku lalu mulai berpikir untuk mengubah lingkungan, lalu keluargaku. Ketika juga tak dapat kuubah keluargaku, maka aku pun mulai berpikir untuk mengubah diriku sendiri. Kini aku berpikir, … seandainya dahulu aku mulai dengan mengubah diriku sendiri, maka sekarang mungkin aku sudah dapat mengubah keluargaku, lingkunganku, bangsaku, atau bahkan dunia.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 61         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Muhammad, Sebuah Nama yang Mengubah Dunia

admin

04 Sep 2025

Post Views: 561       Oleh : Abdul Rasyid, S.E Kapan Nabi Muhammad SAW lahir? Seringkali kita berbeda pendapat. Ada yang bilang 12 Rabiulawal, ada yang bilang 9 Rabiulawal, bahkan ada juga yang menyebut 10 Rabiulawal. Banyak ulama sepakat tanggal 12 Rabiulawal sebagai hari kelahiran Nabi, termasuk mayoritas masyarakat Indonesia yang memperingatinya setiap tanggal …

Hot Categories