Home » Opini » 74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin 11 Jul 2026 97

 

 

 

 

Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com)

Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini.

Di sisi lain, opini yang berkembang di tengah masyarakat adalah adanya upaya saling membongkar borok antarinstansi negara. Sebut saja, Polisi versus Jaksa.

Kalau dilihat dari sudut pandang liberal, kabar tersebut bisa dianggap bagus karena kedua belah pihak akan saling menunjukkan siapa sebenarnya instansi yang paling korup di negeri ini. Namun, di sisi lain, hal ini juga bisa menjadi preseden buruk bagi kedua institusi. Pasalnya, saling senggol antarlembaga justru semakin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi yang sedang berseteru, apalagi keduanya merupakan penegak hukum.

“Lah, penegak hukum saja korup, bagaimana rakyat mau percaya?” begitu komentar salah satu warganet.

Betul. Ini bisa menjadi tanda krisis bagi kredibilitas penegakan hukum di negeri ini. Masyarakat justru dikhawatirkan memanfaatkan momen ini untuk ikut andil merusak negeri dengan berbagai aksinya. Bukan tidak mungkin, kejahatan dan tindak pidana akan semakin banyak bermunculan di kemudian hari karena masyarakat melihat contoh yang sedang dipertontonkan.

Ekonomi sedang sulit, badai PHK terus terjadi, dan angka pengangguran bertambah. Begitulah kira-kira keadaan rakyat di negeri ini. Dalam kondisi seperti itu, rakyat justru dipertontonkan drama antarinstansi. Lalu, sambil menyeruput kopi, dalam hati kecilnya mungkin berkata, “Lah, pejabatku saja begitu, masa aku tidak?”

Di sisi lain, berbagai beban pajak yang dirasakan masyarakat juga semakin berat. Dalam kondisi demikian, tidak heran jika kejahatan dan berbagai tindak pidana semakin merebak di mana-mana.

Contohnya, tidak jauh dari diamankannya 74 kg emas batangan, hampir setiap hari di daerah ini muncul berita tentang kehilangan sepeda motor, perampokan, pencopetan, hingga tawuran antarpelajar yang menyebabkan hilangnya nyawa. Itu baru di satu daerah atau satu kota. Bayangkan jika seluruh kejadian tersebut direkap secara nasional. Berapa banyak tindak kejahatan yang terjadi setiap harinya? Ngeri.

Lalu, Solusinya Apa?

Mengkritik itu mudah. Yang susah adalah memperbaiki. Karena itu, pemerintah juga perlu mendengar suara rakyat, bukan hanya mendengar laporan dari bawahannya.

Pertama, jangan pandang bulu dalam pemberantasan korupsi. Siapa pun yang terbukti melakukan korupsi, baik polisi, jaksa, menteri, anggota DPR, kepala daerah, maupun pejabat lainnya, harus diproses secara hukum dengan terbuka. Jangan ada istilah “orang kita” atau “titipan”. Rakyat sekarang sudah pintar. Mereka bisa membedakan mana penegakan hukum yang murni dan mana yang sekadar drama politik.

Kedua, sidang perkara korupsi yang menyita perhatian publik sebaiknya dibuka seluas-luasnya, kecuali pada bagian yang menurut undang-undang memang wajib dirahasiakan. Transparansi adalah obat terbaik untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai rakyat hanya disuguhi potongan-potongan informasi yang akhirnya memunculkan seribu spekulasi.

Ketiga, lakukan audit menyeluruh terhadap gaya hidup para pejabat. Kekayaan mereka harus benar-benar diawasi, bukan sekadar formalitas mengisi LHKPN. Jika ada lonjakan harta yang tidak masuk akal, jangan menunggu sampai viral baru diperiksa. Negara harus lebih cepat daripada media sosial.

Keempat, hukuman bagi koruptor harus benar-benar memberikan efek jera. Jangan sampai rakyat melihat pelaku korupsi hidup nyaman di penjara, sementara rakyat kecil yang mencuri karena lapar justru langsung merasakan kerasnya hukuman. Keadilan harus benar-benar terasa adil, bukan sekadar tertulis di atas kertas.

Kelima, pemerintah jangan hanya sibuk mengejar penerimaan pajak. Rakyat juga membutuhkan bukti bahwa uang pajak dikelola secara jujur dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan publik yang baik, lapangan pekerjaan, pendidikan yang layak, serta fasilitas kesehatan yang memadai. Kalau rakyat melihat hasilnya, mereka tentu tidak akan keberatan membayar pajak.

Keenam, benahi ekonomi rakyat. Lapangan kerja harus diperbanyak, UMKM dipermudah untuk berkembang, investasi dipercepat tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat, dan program pelatihan kerja harus benar-benar menghasilkan tenaga kerja yang siap bersaing. Karena sesungguhnya, kemiskinan dan pengangguran sering menjadi pintu masuk lahirnya berbagai tindak kriminal.

Selanjutnya, jangan lupakan janji politik mengenai 19 juta lapangan kerja. Janji yang pernah disampaikan kepada publik semestinya menjadi komitmen yang terus diupayakan realisasinya. Rakyat tentu berharap target tersebut tidak berhenti sebagai slogan saat kampanye, melainkan diwujudkan melalui kebijakan yang nyata.

Terakhir, pemerintah harus menyadari bahwa kepercayaan publik adalah aset negara yang paling mahal. Sekali hilang, tidak mudah mengembalikannya. Membangun jalan bisa selesai dalam hitungan tahun. Membangun gedung bisa selesai dalam hitungan bulan. Namun, membangun kembali kepercayaan rakyat bisa memakan waktu puluhan tahun.

Rakyat sebenarnya tidak menuntut pemerintah menjadi sempurna. Rakyat hanya ingin melihat bahwa hukum masih memiliki harga diri, bahwa keadilan masih dapat diperoleh melalui kejujuran, bukan melalui kekuasaan atau uang.

Kalau hukum benar-benar tegak tanpa pilih kasih, rakyat akan ikut menjaga negeri ini. Namun, kalau hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, jangan heran jika rasa percaya perlahan berubah menjadi sikap apatis.

Karena pada akhirnya, sebuah negara bukan akan hancur karena banyaknya orang miskin. Sebuah negara akan runtuh ketika rakyat kehilangan kepercayaan kepada mereka yang diberi amanah untuk menegakkan keadilan.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 473 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 217         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 371       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Iuran Anggota dan Wajah Digital Muhammadiyah

admin

07 Feb 2026

Post Views: 489       Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Wacana digitalisasi Muhammadiyah sejatinya bukan hal baru di lingkungan persyarikatan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, isu ini tampak mulai benar-benar digarap secara serius. Barangkali karena disadari bersama bahwa transformasi digital bukan perkara sederhana. Ia menuntut kesabaran, pembiayaan yang tidak sedikit, …

Hot Categories