Home » Opini » Lebaran Bareng? Begini Prediksinya!

Lebaran Bareng? Begini Prediksinya!

Abdulloh Azzam 21 Mar 2025 900

Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes)

Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan?

Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun organisasinya, baik Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), atau yang mengikuti keputusan pemerintah—pasti menginginkan agar umat ini selalu bersamaan dalam memulai puasa dan merayakan hari raya.

Kalau dibilang sedih, pasti ada rasa sedihnya. Bayangkan di suatu desa terdapat Ranting Muhammadiyah dan Ranting NU. Ketika keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) dan Pengurus Besar NU (PBNU) dalam menentukan awal bulan berbeda, satu desa bisa merayakan lebaran dalam dua waktu yang berbeda. Namanya ranting, harus patuh dengan pimpinan di atasnya, sehingga keputusan bersifat mengikat, mau tidak mau harus diikuti.

Perbedaan ini memang keniscayaan yang sulit dihindari. Namun, pada akhirnya kita semakin terbiasa. Dulu mungkin perbedaan ini bisa menimbulkan perselisihan, tetapi kini riuh-riak tentang perbedaan semakin menipis. Umat semakin cerdas dan mampu beradaptasi dengan kondisi ini.

Kendati demikian, bersepakat menentukan hari yang sama ternyata sangat sulit bagi kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Cara memahami dalil tentang penentuan awal bulan saja sudah berbeda, apalagi dalam banyak hal lainnya. Ulama-ulama mazhab pun terbiasa dengan perbedaan. Jadi, kalau ada usul untuk menyamakan, justru terdengar aneh, karena memang sudah berbeda sejak awal. Ya sudah, biar beda saja, tidak apa-apa, jangan dipaksa.

Imkan Rukyat yang dipedomani pemerintah dalam menentukan awal bulan pada prinsipnya bertujuan mengakomodasi metode hisab wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah serta Rukyatul Hilal Bil Fi’li yang dipedomani NU. Langkah yang diambil pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) ini sebenarnya sudah cukup keren. Akan tetapi, masih menyisakan perbedaan karena adanya beberapa kriteria yang tidak selalu selaras.

Sebagai contoh, jika tinggi hilal di atas 1°, maka bisa dipastikan awal bulan akan berbeda. Menurut Muhammadiyah, jika saat matahari terbenam hilal sudah berada di atas ufuk—berapapun tingginya—maka dianggap cukup untuk menandai awal bulan baru, meskipun hanya 0, sekian derajat. Ketinggian hilal 1° ini jika dilihat dengan kasat mata jelas sangat sulit, bahkan dengan bantuan teropong pun masih susah.

Oleh karena itu, Kemenag menggunakan kriteria tinggi hilal minimal 3° dan sudut elongasi 6,4°. Tinggi hilal 1° hanya memenuhi kriteria Muhammadiyah, sementara NU dan Kemenag akan kesulitan melihat hilal. Sehingga, bisa dipastikan awal bulan akan berbeda.

Jika kita cermati penentuan awal Ramadan tahun ini, sebenarnya tidak ada masalah. Menurut hisab Muhammadiyah, tinggi hilal di Yogyakarta pada Jumat, 28 Februari 2025 sudah mencapai 4°. Maka sebelum Kemenag merilis hasil hisabnya, kita sebagai umat Islam sebenarnya sudah bisa menebak. Dengan tinggi di atas 4°, berarti memenuhi kriteria Kemenag dan ada potensi hilal terlihat. Dengan demikian, awal puasa bisa dipastikan bersamaan.

Data Kemenag yang dirilis pada 28 Februari 2025 menunjukkan bahwa ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk, berkisar antara 3° 5,91’ hingga 4° 40,96’, dengan sudut elongasi antara 4° 47,03’ hingga 6° 24,14’. Pada penentuan awal Ramadan kemarin, hampir semua wilayah memiliki tinggi hilal yang memenuhi kriteria. Hanya saja, di wilayah Indonesia bagian timur sudut elongasinya belum memenuhi syarat 6,4°. Namun, harapan untuk bisa berpuasa serentak datang dari Aceh yang memenuhi kriteria tinggi hilal 3° dan sudut elongasi. Akhirnya, hilal terlihat dan Kemenag menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 1 Maret 2025, yang berarti Muhammadiyah dan NU bersamaan dalam memulai puasa.

Lalu, apakah Lebaran tahun ini juga akan sama? Insya Allah, akan sama. Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, hasil hisab Muhammadiyah menunjukkan bahwa pada Sabtu Kliwon, 29 Ramadan 1446 H (29 Maret 2025), tinggi hilal (bulan sabit muda) saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah -1° 59’ 04”, yang berarti hilal belum wujud. Oleh karena itu, bulan Ramadan 1446 H akan disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin Pahing, 31 Maret 2025.

Jika kita mengacu pada metode NU yang mengharuskan melihat hilal, maka dengan ketinggian hilal -1° 59’ 04” ini, bisa dipastikan hilal mustahil terlihat. Artinya, NU juga akan menyempurnakan Ramadan menjadi 30 hari dan akan mengumumkan 1 Syawal jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.

Bagaimana dengan pemerintah? Sama saja. Pemerintah menggabungkan metode hisab dan rukyatul hilal, sehingga sebenarnya sudah mengetahui kapan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Karena tinggi hilal -1° 59’ 04”, sudah pasti tidak memenuhi kriteria. Mau dilihat dengan teropong paling canggih pun tidak akan terlihat, karena memang hilal belum wujud.

Jadi, insya Allah, tahun ini puasanya barengan, lebarannya juga barengan. Bagi ibu-ibu, tidak perlu ragu untuk memasak masakan lebaran yang enak dan banyak. Insya Allah aman. Kita lihat saja.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 72         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 473 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 217         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 371       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories