Home » Kajian & Hikmah » Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin 15 Jul 2026 48

 

 

 

 

Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia)

90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga selalu datang diluar ekspektasi. Catatan dan nilai tinggi di atas kertas, tak selalu pasti.

Itulah kesan yang terasa saat menyaksikan duel Spanyol melawan Prancis di semifinal Piala Dunia 2026 kali ini. Di atas kertas, Prancis memiliki begitu banyak pemain bertabur bintang. Satu  sentuhan bisa saja merubah alur jalannya setiap pertandingan yang mereka ikuti.. Namun sepak bola tidak hanya menguji kualitas kaki. Ia juga menguji kematangan kepala dan hati.

Spanyol memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Hingga peluit akhir berbunyi, mereka tidak sibuk mencari siapa yang paling bersinar. Mereka bermain sebagai satu kesatuan. Tidak tergesa-gesa ketika ditekan, tidak larut dalam emosi ketika kehilangan bola, dan tidak saling menyalahkan ketika peluang terbuang. Di saat lawan mulai bermain dengan tensi yang tinggi, mereka justru semakin tenang.

Saya kemudian teringat bahwa dalam hidup, kekalahan sering kali bukan disebabkan kurangnya kemampuan. Banyak orang gagal bukan karena tidak berbakat, melainkan karena tidak mampu mengendalikan emosinya.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan hal itu jauh sebelum manusia mengenal istilah mental strength.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amal yang paling dicintai Allah ialah menghadirkan kebahagiaan kepada seorang muslim, menghilangkan kesusahannya, melunasi utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku lebih mencintai berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya daripada beriktikaf di masjidku selama sebulan. Barang siapa menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya. Barang siapa menahan kemarahannya padahal ia mampu melampiaskannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat.”
 (HR. Ath-Thabrani)

Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menghubungkan dua hal yang sering kita pisahkan: kepedulian kepada sesama dan kemampuan mengendalikan amarah.

Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya seberapa rajin ia beribadah, tetapi juga seberapa besar manfaatnya bagi orang lain dan seberapa mampu ia menjaga akhlaknya ketika emosinya diuji.

Bahkan di akhir hadis disebutkan bahwa buruknya akhlak dapat merusak amal sebagaimana cuka merusak manisnya madu. Sebuah perumpamaan yang sederhana, tetapi sangat dalam. Amal yang banyak bisa kehilangan keindahannya ketika dibungkus dengan kesombongan, kemarahan, atau sikap yang menyakiti orang lain.

Semangat yang sama juga ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
 (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini turun sebagai pelajaran bahwa kemuliaan tidak diukur oleh asal-usul, warna kulit, ataupun kedudukan. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa Tsabit bin Qais yang sempat mengucapkan perkataan yang kurang pantas kepada seseorang dalam sebuah majelis. Rasulullah ﷺ kemudian mengingatkan bahwa manusia tidaklah lebih mulia karena warna kulit atau nasabnya, melainkan karena ketakwaannya.

Ibnu Katsir menambahkan syarahnya pada ayat ini bahwa seluruh manusia dimuliakan karena sama-sama berasal dari Nabi Adam dan Hawa. Tidak ada alasan untuk merasa lebih tinggi daripada yang lain. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Namun ketakwaan bukan hanya urusan sajadah.

Ketakwaan juga tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain. Dalam kesediaan membantu saudara yang sedang kesulitan. Dalam kemampuan menahan amarah ketika sebenarnya kita mampu melampiaskannya. Dalam kerendahan hati untuk lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada ego pribadi.

Karena itulah Rasulullah ﷺ lebih memilih berjalan membantu urusan seorang saudaranya daripada beriktikaf selama sebulan di Masjid Haram Nabawi. Pesan ini mengajarkan bahwa ibadah yang benar akan melahirkan kepedulian sosial. Orang yang dekat kepada Allah semestinya juga menjadi orang yang paling menenangkan bagi manusia.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari pertandingan itu.

Squad bintang memiliki banyak pemain hebat.

Tetapi squad matang memiliki banyak orang yang mampu mengendalikan dirinya.

Dan dalam kehidupan, yang paling sering memenangkan “pertandingan” bukanlah orang yang paling berbakat.

Melainkan mereka yang mampu menaklukkan satu lawan yang paling sulit dikalahkan: ego dan amarahnya sendiri.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 61         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 219         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 197       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Muhammad, Sebuah Nama yang Mengubah Dunia

admin

04 Sep 2025

Post Views: 561       Oleh : Abdul Rasyid, S.E Kapan Nabi Muhammad SAW lahir? Seringkali kita berbeda pendapat. Ada yang bilang 12 Rabiulawal, ada yang bilang 9 Rabiulawal, bahkan ada juga yang menyebut 10 Rabiulawal. Banyak ulama sepakat tanggal 12 Rabiulawal sebagai hari kelahiran Nabi, termasuk mayoritas masyarakat Indonesia yang memperingatinya setiap tanggal …

Hot Categories