
Perintis vs Pewaris: Stop Dibenturkan, Mulai Disyukuri

Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes)
Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana.
Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris dianggap “kurang baik” karena memulai dari 50, 60, atau bahkan 90.
Kita terjebak pada opsi biner: generasi perintis itu benar dan generasi pewaris itu salah. Kalau cara pandang kita seperti ini, ya repot. Kita tidak melihat sisi baik dari keduanya. Padahal keduanya sama-sama baik, tidak perlu dibenturkan. Bisa jadi kita hanya merasa nasib kita kurang beruntung dibanding mereka yang cukup kaya, sehingga muncul sikap nyinyir.
Menjadi generasi perintis itu baik. Ada kebanggaan tersendiri, sebuah “pride”, sekaligus “legacy” yang bisa diwariskan kepada anak dan cucu.
Memang tidak mudah memulai segalanya benar-benar dari nol. Memulai bekerja, mengumpulkan modal, semuanya dikerjakan sendiri. Kerja tanpa kenal waktu, dari pagi ketemu pagi. Kita sering mendengar kisah heroik ini—bahkan mungkin orang tua kita pelakunya, atau kita sendiri yang mengalaminya.
Semua itu dilakukan demi orang-orang yang disayangi: anak dan cucu. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 9:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Lemah di sini maksudnya adalah lemah secara finansial—tidak memiliki bekal yang cukup untuk hidup mandiri dan sejahtera. Menjadi generasi perintis berarti melaksanakan perintah Allah untuk menghindarkan keturunan dari kelemahan itu, dan itu sangat mulia. Keren, bukan?
Lalu, bagaimana jika kita ternyata generasi pewaris? Ya, tidak masalah juga. Justru itu harus disyukuri. Itu adalah privilege yang sebaiknya dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Banyak yang mengira menjadi generasi pewaris itu enak. Hidup serba cukup, mau bisnis didukung orang tua, semua fasilitas tersedia. Mereka lupa bahwa generasi pewaris juga punya beban sendiri. Seolah-olah harus selalu sukses dan tidak boleh gagal.
Kalau berhasil, dibilang, “wajar, kan anak orang kaya.” Kalau gagal, dicibir, “sudah dapat privilege, masih gagal saja, gimana sih.”
Di mata orang yang iri atau dengki, generasi pewaris memang serba salah. Padahal menjadi pewaris adalah privilege luar biasa. Dalam bisnis, misalnya, kalau gagal pun masih ada backup dari orang tua. Makanya peluang suksesnya lebih besar dibanding mereka yang tidak punya privilege itu. Sementara bagi yang tidak punya, salah langkah bisa langsung wassalam.
Lagi pula, menjadi pewaris bukanlah kesalahan. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa. Kalau bisa memilih, mungkin semua orang mau lahir dari keluarga konglomerat dengan harta tujuh turunan tidak habis.
Biasanya yang sering mencibir generasi pewaris adalah mereka yang masih berjuang menjadi perintis. Segala kesulitan dihadapi bertubi-tubi sampai kehilangan kendali, lalu membandingkan hidupnya dengan orang lain yang terlihat lebih enak. Apalagi kalau melihat generasi pewaris yang “sok-sokan” memulai dari nol, padahal punya privilege besar sebagai anak perintis.
Beberapa waktu lalu, warganet sempat geram dengan bocil Ryu Kintaro—anak usia 9 tahun berpenghasilan Rp1 miliar—karena nyenggol soal generasi perintis dan pewaris. Dari penuturannya, jelas Ryu ini bukan anak biasa. Bisa dibilang, anak yang tumbuh dewasa sebelum masanya.
Kata-katanya yang viral: “Yang paling seru itu justru hidup sebagai perintis. Enggak ada yang nunjukin arah, enggak ada yang menjamin hasil, tapi justru itu letak asyiknya,” memicu pro dan kontra.
Apa yang ia sampaikan memang benar, tapi kurang tepat jika datang darinya. Kenapa? Karena dia anak kecil yang jelas punya privilege besar. Orang tuanya punya gurita bisnis di mana-mana. Kalau yang bicara Pak Chairul Tanjung, misalnya, netizen pasti tak protes.
Mungkin akan lebih aman kalau Ryu bilang, “Saya ini generasi pewaris. Saya bisa seperti sekarang karena papa saya mengajari saya mengatur waktu, disiplin, ikut les, ngonten, bahkan menghadiahi saya bisnis. Mentor bisnis saya ya papa saya.”
Masalahnya, generasi pewaris ini kadang tampil seolah-olah mereka perintis. Nah, poin itu yang bikin geram netizen. Pesannya benar, tapi penyampainya tidak tepat.
Daripada ribut soal perintis atau pewaris, toh tidak akan mengubah keadaan kita. Jangan sampai kita malah menyalahkan takdir. Alih-alih bersyukur, nanti malah kufur terhadap nikmat Allah.
Lebih baik fokus pada diri sendiri. Kalau bukan pewaris, ayo kita usahakan menjadi generasi perintis itu. Kalau pewaris, lanjutkan apa yang sudah ada, syukur bisa lebih baik, minimal bertahan, dan jangan sampai menghancurkan apa yang dibangun orang tua atau pendahulu kita.
Hidup tidak selamanya senang, juga tidak selamanya susah. Apa yang ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah jadi milik orang lain. Jadi, untuk apa iri pada capaian orang lain? Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi boleh jadi sintetis, tapi bisa juga beneran hijau . Tentu saja lebih baik kita fokus menghijaukan rumput kita sendiri.
admin
11 Jul 2026
Post Views: 73 Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …
admin
03 Jun 2026
Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …
admin
29 Apr 2026
Post Views: 218 Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …
admin
26 Mar 2026
Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …
admin
10 Mar 2026
Post Views: 372 Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …
admin
14 Feb 2026
Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …
11 Agu 2025 979 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana. Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris …
16 Apr 2025 969 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Belakangan ini, antrean panjang di toko-toko emas dan gerai logam mulia jadi pemandangan yang cukup umum. Banyak orang rela menunggu demi bisa membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Fenomena ini bukan tanpa alasan—emas dianggap sebagai aset safe haven, aset yang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai …
06 Apr 2025 954 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Setiap menjelang hari raya, khususnya Idulfitri, tradisi pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) jadi momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Selain yang bersifat formal seperti THR untuk karyawan, ada juga versi yang lebih informal tapi nggak kalah penting: THR untuk keluarga dan kerabat. Tradisi ini sudah mengakar cukup …
04 Jul 2025 906 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Beberapa hari yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan menerbitkan izin pendirian Bank Syariah Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan segera dimuat di berbagai media. Tak pelak, masyarakat umum—terutama warga Muhammadiyah—ramai membicarakan dan …
21 Mar 2025 900 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan? Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun …
Comments are not available at the moment.