
IPO Saham: Mulai dari Receh, Untungnya Tidak Receh

Oleh : Abdul Rasyid, S.E (Personal Finance & Investment Strategist)
Bagi banyak orang, investasi di saham itu mengerikan. Yang pertama kali muncul di pikiran orang awam, saham identik dengan modal jutaan hingga miliaran rupiah. Belum lagi masyarakat sudah terlanjur takut begitu mendengar kata “investasi”, karena berita investasi bodong jauh lebih santer terdengar dibanding berita investasi yang berhasil.
Padahal dunia investasi tidak sesempit dan semenakutkan itu. Rendahnya literasi keuangan di masyarakat inilah yang membuat banyak orang enggan berurusan dengan hal berbau investasi.
Yang lucu, alih-alih memahami cara kerjanya, orang justru sudah tergiur duluan sama imbal hasilnya yang seringkali tidak logis. Bagi mereka yang paham gameplay-nya, angka-angka itu sudah jelas tidak masuk akal. Tapi masyarakat seringkali tidak mau tahu. Yang penting investasi sekian juta, tiap bulan dapat berapa. Cara berpikirnya seperti orang malas kerja tapi pingin banyak duit. Dan tentu saja, cara berpikir seperti ini keliru.
Menabung di bank atau menaruh uang di deposito memang sangat aman, dapat bunga 3–5% per tahun dan uang tidak hilang. Itu cara paling aman. Kalau saham, kita butuh lebih banyak pemahaman untuk bisa main di sana. Cara paling gampangnya: beli ketika IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan — indikator naik-turunnya harga saham secara keseluruhan di Bursa Efek Indonesia) sedang merah alias koreksi tajam. Di situlah potensi cuan besar menanti ketika IHSG kembali naik.
Kalau ada yang menjanjikan investasi 10 juta dengan imbal hasil 1 juta per bulan alias 10% per bulan, itu sudah pasti tidak masuk akal. Orang yang benar-benar bisa menghasilkan return sebesar itu, sudah pasti tidak akan repot-repot mengajak orang lain. Dinikmatin sendiri dan keluarga terdekat saja. Tapi karena judulnya menipu, ya tentu harus mengajak banyak orang.
Kalau masih bingung, tanya saja AI seperti ChatGPT atau Gemini: rata-rata imbal hasil instrumen investasi per tahunnya berapa. Atau kalau ada yang menawarkan produk investasi dengan iming-iming sekian juta, tanyakan ke AI, masuk akal tidak angka itu. Lumayan sebagai referensi awal sebelum memutuskan.
Nah, di antara banyak instrumen investasi, ada satu yang cukup game changing dan sering luput dari perhatian orang biasa: IPO saham.
IPO adalah singkatan dari Initial Public Offering, atau dalam bahasa gampangnya: pertama kalinya sebuah perusahaan menjual sahamnya ke publik alias masyarakat umum melalui bursa efek. Sebelum IPO, perusahaan itu “tertutup” — hanya orang-orang tertentu yang bisa jadi pemiliknya. Setelah IPO, siapa pun bisa beli sahamnya, termasuk kita.
Yang menarik, beli saham IPO ini bisa dilakukan dengan modal yang sangat kecil. Belasan ribu, puluhan ribu rupiah pun bisa. Tapi dengan modal sekecil itu, potensi keuntungannya bisa berlipat-lipat.
Kenapa bisa begitu? Di sinilah kita perlu kenal istilah ARA.
ARA adalah singkatan dari Auto Reject Atas — yaitu batas maksimal kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan yang ditetapkan oleh bursa. Untuk saham yang baru IPO, batas ARA-nya adalah 25% per hari. Artinya, kalau hari ini harga sahamnya naik 25%, bursa otomatis menghentikan kenaikannya di angka itu. Besok bisa naik lagi 25%. Lusa juga bisa. Dan seterusnya.
Jadi begitu saham baru melantai di bursa, seringnya langsung ARA hari pertama. Naik 25%. Besok ARA lagi. Besoknya lagi ARA lagi. Kalau ini terjadi tiga hari berturut-turut saja, uang kita sudah hampir dua kali lipat. Menarik, kan?
Yang perlu diingat: ini bukan investasi jangka panjang. Anggap saja seperti mencari peruntungan sesaat yang jelas dan pasti. Sesaat karena memang prosesnya cepat, tidak perlu menunggu bertahun-tahun. Jelas dan pasti karena ada regulasinya, diakui dan dibenarkan oleh aturan negara.
Karena modal kita tidak banyak, ya tidak apa-apa investasi sedikit. Tujuannya bukan bikin kita kaya mendadak, tapi setidaknya kita bisa ikut menikmati “kue” yang selama ini hanya dinikmati orang berduit. Hasilnya mungkin cukup buat ngopi, makan nasi Padang, atau beli sepatu yang lumayan bagus.
Lewat IPO saham, kita juga bisa mulai belajar pengalaman berinvestasi. Mulai sedikit, eh dapatnya lumayan. Kalau modalnya lebih besar, hasilnya juga lebih besar. Yang penting kita sudah merasakan sendiri bahwa uang bisa bertumbuh, tidak segitu-gitu saja.
Satu hal lagi yang penting: rasa cukup. Kalau saham kita sudah naik berkali-kali ARA, pada titik tertentu pasti akan turun juga. Namanya manusia, susah puas. Maunya nunggu naik terus. Eh, yang ada sahamnya malah nyungsep. Saham IPO itu kan saham yang baru masuk pasar, dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan belum tentu terus naik selamanya. Jadi kalau sudah merasa cukup, langsung jual. Lagipula kita cuma kebagian beberapa lot saja (1 lot = 100 lembar saham), jadi untuk jangka panjang skema ini memang bukan untuk bikin kita kaya raya.
Dibanding judi online yang ujung-ujungnya uang hilang semua, bikin emosi karena kalah terus, dan dosa pula — investasi IPO jelas jauh lebih masuk akal. Sudah nggak bikin kaya, duitnya malah raib, dapat dosa. Ampas banget.
Kabar baiknya, lebih dari lima perusahaan akan melakukan IPO dalam beberapa hari ke depan. Anehnya, beberapa perusahaan yang sudah lama digadang-gadang mau IPO malah tak kunjung realisasi. Rumor terus, tidak ada kepastian. Mungkin kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu membuat mereka menahan diri.
Tapi justru ketika IHSG anjlok dan koreksi sangat dalam, tanpa banyak rumor tiba-tiba banyak perusahaan IPO secara serentak. Apakah ini strategi BEI (Bursa Efek Indonesia) untuk mendongkrak IHSG yang sempat ambles? Bisa jadi. Dengan masuknya saham-saham baru yang langsung ARA berkali-kali, IHSG pun ikut terdorong naik.
Apapun alasannya, kita sebagai masyarakat dengan kondisi ekonomi biasa-biasa saja, ya tinggal ikut-ikutan saja. Kalau dibilang cuan, ya pasti cuan — cuma belum tahu akan sebesar apa.
Ini waktunya. Jangan sampai terlewat.
admin
17 Jun 2026
Post Views: 123 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Strategist) Harga-harga naik, lapangan kerja makin sempit, dan pemerintah sibuk bicara angka-angka yang tidak kita rasakan. Kondisi geoekonomi dan geopolitik masih menunjukkan tensi yang cukup tinggi, dan negara yang amat kita cintai ini sudah jelas pasti akan terdampak. Tentu saja, …
admin
02 Jan 2026
Post Views: 537 Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Setelah kita selesai evaluasi keuangan, langkah selanjutnya adalah menentukan arah yang jelas untuk keuangan kita. Di sini konsep Tangga Ternak Uang sangat membantu. Konsep ini sederhana tapi cukup membantu memudahkan kita, terdiri dari tujuh langkah yang harus dilakukan berurutan untuk …
admin
22 Des 2025
Post Views: 474 Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Akhir tahun selalu menjadi momen yang tepat untuk kita berhenti sejenak dan mengecek lagi bagaimana kondisi keuangan selama setahun terakhir. Di tengah kesibukan sehari-hari kadang kita lupa, waktu ini sebenarnya kesempatan bagus buat kita mencari tahu apa yang sudah …
admin
15 Okt 2025
Post Views: 671 Oleh : Abdul Rasyid, S.E (Personal Finance & Investment) Beberapa bulan lalu, tepatnya April 2025, emas mencatatkan harga tertinggi sepanjang masa. Harga emas ANTAM tembus Rp1.960.000 per gram. Banyak orang berduyun-duyun ke Butik Antam, ke toko-toko emas untuk membeli. Bahkan, karena saking ramainya, mereka rela antre panjang sampai tiap …
admin
24 Sep 2025
Post Views: 641 Oleh : Abdul Rasyid, S.E (Personal Finance & Investment) Dalam beberapa hari terakhir, harga emas terus melonjak, bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Per September 2025, harga emas mencapai USD3.600-3.700 per troy ounce atau setara Rp2 jutaan per gram di pasar domestik. Kenaikan ini sudah lebih dari 40–45% dibanding …
admin
19 Apr 2025
Post Views: 443 Oleh : Dr. Akhmad Arif Amin (Penasihat PCM Bogor Barat) Almarhum KH AR Fachruddin, salah satu tokoh Muhammadiyah, pernah berpesan bahwa: “Daripada tanah dibeli oleh kaum kuffar dan munafiqun, lebih baik warga persyarikatan yang membelinya.” Pandangan ini tidak hanya bernuansa keagamaan, tetapi juga memiliki dasar ekonomi yang kuat. Tanah, menurut beliau, adalah …
11 Agu 2025 977 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana. Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris …
16 Apr 2025 968 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Belakangan ini, antrean panjang di toko-toko emas dan gerai logam mulia jadi pemandangan yang cukup umum. Banyak orang rela menunggu demi bisa membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Fenomena ini bukan tanpa alasan—emas dianggap sebagai aset safe haven, aset yang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai …
06 Apr 2025 953 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Setiap menjelang hari raya, khususnya Idulfitri, tradisi pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) jadi momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Selain yang bersifat formal seperti THR untuk karyawan, ada juga versi yang lebih informal tapi nggak kalah penting: THR untuk keluarga dan kerabat. Tradisi ini sudah mengakar cukup …
04 Jul 2025 906 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Beberapa hari yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan menerbitkan izin pendirian Bank Syariah Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan segera dimuat di berbagai media. Tak pelak, masyarakat umum—terutama warga Muhammadiyah—ramai membicarakan dan …
21 Mar 2025 899 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan? Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun …
Comments are not available at the moment.