Home » Kajian & Hikmah » Amal Terbaik Menurut Nabi: Gak Ribet, Tapi Dahsyat!

Amal Terbaik Menurut Nabi: Gak Ribet, Tapi Dahsyat!

admin 25 Apr 2025 432

Syarah Kitab Al Arba’in Ar Rambaniyyah fii I’daad Khair Al Bariyyah
(Kumpulan 40 Hadits tentang Pembentukan Generasi Terbaik)

karya Assoc. Prof. Dr. KH. Akhmad Alim Lc., MA.

Oleh: Ust. Ahmad Fathoni, M.E

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْر الْمُازَنِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَحَدهُمَا: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟، قَالَ: طُوبَى لِمَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ. وَقَالَ الآخَر: أَيُّ الْعَمَلِ خَيْرٌ؟،  قَالَ: أَنْ تُفَارِقَ الدُّنْيَا وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللهِ.  (رواه  الترمذي  وأحمد وأبو نعيم في حلية الأولياء).

وفي رواية عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ، فَتَضْرِبُوا أَعنْاَقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.  (رواه الترمدي)

Dari Abdullah bin Busr al Muzani ia berkata, “datanglah dua orang arab baduwi kepada Rasulullah SAW, salah satu diantara mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik ?” Rasulullah menjawab, “sungguh beruntung orang yang panjang umurnya lalu baik pula amalnya.” Lalu yang lain berkata, “lantas amal apa yang terbaik itu?” Rasulullah kembali menjawab, “ketika engkau berpisah dengan dunia sedangkan lisanmu selalu basah dengan zikir kepada Allah.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’)

Dari Riwayat yang lain dari Abu Darda, ia berkata “Nabi SAW bersabda, “tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang amalan terbaik lagi suci di sisi Allah SWT ? dan amalan yang dapat mengangkat derajat kalian, bahkan nilainya lebih baik daripada sedekah emas dan uang. ia juga lebih baik nilainya dari pahala kalian ketika bertemu musuh lantas kalian membunuhnya dan musuh pun membunuh kalian (syahid) ?” mereka menjawab, “ya kami mau wahai Rasulullah.” Rasulullah kemudian berkata, “amalan itu adalah zikir kepada Allah SWT.” (HR. At Tirmdizi)

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Busr Al Muzani bahwa ada dua orang Badui datang kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?” Jawaban beliau sederhana namun penuh makna:

“Beruntunglah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”

Lalu pertanyaan berikutnya datang, “Amal apa yang terbaik itu?” Rasulullah menjawab, “Ketika engkau meninggalkan dunia sementara lidahmu basah dengan zikir kepada Allah.” Sebuah jawaban yang mengingatkan kita bahwa kualitas hidup bukan hanya soal lama atau singkatnya umur, tapi bagaimana kita mengisinya dengan mengingat Sang Pencipta.

Kisah ini bukan sekadar cerita lama, tapi pesan abadi yang relevan di zaman serba cepat dan penuh distraksi ini. Di saat banyak orang berlomba mengumpulkan harta dan status, Rasulullah mengajarkan bahwa amalan terbaik adalah zikir—ingat dan “nyebut” nama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Melengkapi hal itu, Imam At Tirmidzi juga menyebutkan riwayat lain dari Abu Darda yang menguatkan hal tersebut: pahala zikir bahkan lebih tinggi nilainya daripada sedekah emas dan perak, bahkan lebih mulia dari pahala syahid di medan perang. Bayangkan, amalan sederhana namun penuh keberkahan ini bisa mengangkat derajat kita di hadapan Allah.

Namun, jangan salah sangka. Panjang umur tanpa amal baik justru menjadi kerugian besar. Rasulullah mengingatkan bahwa umur yang panjang tapi diisi maksiat adalah umur yang seburuk-buruknya. Sebaliknya, umur yang dipenuhi zikir dan amal shalih adalah karunia luar biasa yang harus disyukuri.

Kisah dua sahabat Yaman yang hijrah bersama Rasulullah pun menguatkan pesan ini. Yang meninggal di tempat tidur dan berjumpa Ramadhan lebih dulu masuk surga dibanding yang gugur di medan perang—karena umur panjang dan kesempatan beramal di bulan suci itu adalah nikmat besar.

Mari merenung bersama : bukan sekadar berapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita mengisi waktu itu dengan amal yang membawa kita dekat kepada Allah. Mulailah dengan zikir, karena dari situlah pahala mengalir deras, mengangkat derajat, dan menenangkan jiwa.

Selamat mengisi umur dengan amal terbaik, semoga lisan kita selalu basah dengan mengingat Allah, hingga saatnya nanti kita berpisah dengan dunia, agar kita benar-benar menjadi orang yang beruntung.

 

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 63         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 198       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Hot Categories