Home » Kajian & Hikmah » Setipis Peluit Akhir

Setipis Peluit Akhir

admin 07 Jul 2026 83

 

 

 

 

Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat)

“Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”
 — Lembaga Budi, Buya HAMKA

Tak ada yang benar-benar pasti kecuali satu istilah yang kita kenal dengan perubahan. Siang dan malam terus berganti, basah hujan jadi kering karena panas matahari, bentuk sabit bulan pun membulat sempurna lalu kemudian menghilang di balik langit. Tangis isak bayi mengundang bahagia orang yang mengharapkannya. Dan kematian seseorang menjadi waris bagi ahlinya. Begitulah, semua pasti berubah kecuali keputusan Allah yang Maha Kuasa.

Allah mendidik manusia melalui silih bergantinya keadaan.

Barangkali karena itulah Buya Hamka pernah berpesan agar kita jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Sebab jarak antara bahagia dan duka bukanlah sejauh langit dengan bumi, melainkan setipis sehelai daun yang gugur ditiup angin. Kadang hanya dipisahkan oleh satu berita, satu keputusan, atau bahkan satu detik yang mengubah segalanya.

Fans sepak bola di tanggal yang cantik ini banyak kecewa. Tapi tak sedikit pula yang berbahagia.

Portugal resmi terhenti langkahnya di babak 16 besar Piala Dunia 2026, padahal berjuta-juta pendukungnya wabilkhusus pendukung setia Cristiano Ronaldo 7 (CR7) memelihara harapan besar. Tak terelakkan dalam benak pikiran untuk melangkah lebih jauh, semifinal, final, bahkan mengangkat piala yang selama ini diidamkan. Tak hanya sekedar skor besar di papan digital. Ia telah menjelma menjadi doa, menjadi kebanggaan, bahkan menjadi alasan untuk berkumpul bersama keluarga dan sahabat.

Akan tetapi, sepak bola mempunyai tabiat yang sama dengan kehidupan. Ia tidak pernah berjanji kepada siapa pun selain kepada mereka yang bersedia menerima segala kemungkinan.

Ketika peluit panjang berbunyi dan papan skor menunjukkan kemenangan Spanyol, seketika itu pula udara yang semula dipenuhi sorak berubah menjadi sunyi. Mata yang beberapa jam sebelumnya berbinar kini mulai berkaca-kaca. Tidak sedikit yang termenung, seolah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Padahal, apakah yang berubah?

Lapangan masih sama. Rumput masih menghijau. Langit pun tidak runtuh. Yang berubah hanyalah keadaan hati manusia.

Betapa tipis sesungguhnya batas antara bahagia dan sedih.

Begitulah kiranya Allah memperlihatkan kuasa-Nya kepada manusia bahwa kegembiraan dan kesedihan adalah dua tamu yang datang silih berganti. Tidak benar bilamana kita senantiasa berharap bahwa salah satunya akan bertahan selamanya pada diri kita yang papa.

Kebahagiaan yang terlalu lama akan membuat siapa saja sombong dan lupa. Sementara kesedihan yang tak kunjung “minggat” hanya akan memahat keputusasaan lebih dalam.

Keduanya sama-sama menjauhkan manusia dari kebeningan jiwa.

Al-Qur’an telah lama mengingatkan,

{ لِّكَیۡلَا تَأۡسَوۡا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوا۟ بِمَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالࣲ فَخُورٍ }

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” [Surat Al-Hadid: 23]

Dalam Kalam-Nya itu, Allah SWT sekalipun tak menafikan adanya duka. Pun sama sekali Yang Maha Kuasa tak melarang kita untuk berbahagia. Karena keduanya adalah kodrat bagi hati seorang hamba. Sepatutnya suka maupun duka bisa menjadi ujian yang menghasilkan nilai sempurna, yaitu hamba yang bertakwa.

Bagi setiap mukmin yang dewasa, janganlah terlalu terlena dengan apa yang nampak di mata. Saringlah ia dengan hati yang jernih dan bening. Sikapi dengan iman dan takwa. Syukur dan sabar selalu jadi pondasi untuk melangkah di dunia yang sebentar dan tak lama. Ketahuilah perkara yang sejati. Bahwa hidup di dunia hanya lewat dan permisi. Nikmat hidup yang sebenarnya justru datang setelah mati.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 198       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Muhammad, Sebuah Nama yang Mengubah Dunia

admin

04 Sep 2025

Post Views: 561       Oleh : Abdul Rasyid, S.E Kapan Nabi Muhammad SAW lahir? Seringkali kita berbeda pendapat. Ada yang bilang 12 Rabiulawal, ada yang bilang 9 Rabiulawal, bahkan ada juga yang menyebut 10 Rabiulawal. Banyak ulama sepakat tanggal 12 Rabiulawal sebagai hari kelahiran Nabi, termasuk mayoritas masyarakat Indonesia yang memperingatinya setiap tanggal …

Hot Categories