Home » Kajian & Hikmah » Keluarga Harmonis ala Rasulullah: Cinta, Kesederhanaan, dan Keteladanan

Keluarga Harmonis ala Rasulullah: Cinta, Kesederhanaan, dan Keteladanan

Abdulloh Azzam 01 Okt 2024 143

Syarah Kitab Al Arba’in Ar Rambaniyyah fii I’daad Khair Al Bariyyah
(Kumpulan 40 Hadits tentang Pembentukan Generasi Terbaik)

karya Assoc. Prof. Dr. KH. Akhmad Alim Lc., MA.

Oleh: Ust Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Umum PK IMM UIKA 2014-2018)

[عن عائشة أم المؤمنين:]

خَيْرُكُمْ خَيْرَكُمْ لأهلِهِ وأنا خَيْرُكُمْ لأهلِي وإذا ماتَ صاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ .أخرجه الترمذي (٣٨٩٥)

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sebaik-baik diantara kalian adalah ia yang berbuat baik kepada istrinya. Dan apabila ada yang meninggal diantara kalian hendaknyalah ia mendoakannya. (HR. Tirmidzi)

Keluarga adalah unsur terpenting pembentuk masyarakat. Keluarga yang baik akan menentukan baiknya masyarakat dan begitu pula sebaliknya. Keluarga menjadi pilar tegaknya kehidupan sosial. Keluarga yang terhubung dengan keluarga lain dengan interaksi yang baik akan menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman dan tenteram. Lingkungan yang nyaman, aman dan tenteram akan membantu melahirkan generasi yang baik dan kuat. Kuat secara fisik dan emosional serta spiritual.

Bagaimana Keluarga yang terbaik itu dibentuk ???

Nabi Muhammad SAW mewasiatkan bahwa keluarga yang terbaik itu adalah keluarga yang dipenuhi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Setiap anggota keluarga saling mencintai dan saling mengasihi satu sama lain. Tidaklah keluarga yang didalamnya dipenuhi kasih sayang kecuali akan tumbuh di dalamnya generasi yang juga mudah berlemah lembut dengan orang lain dalam bersikap sebab ia mendapatkan contoh langsung dari kedua orang tuanya setiap hari. Kata-kata kasar nan menusuk hati tak akan keluar dari lisannya sebab tiap hari ia terbiasa mendengar kata penuh santun dan berbudi. Begitu pula tangan dan kakinya, enggan ia gunakan untuk menzalimi orang lain, sebab kedua orang tuanya saling bahu membahu untuk memberi contoh bahwa amanah tangan dan kaki dari Allah ini harus ia jaga dengan baik.

Berlemah lembut di dalam keluarga tak hanya pada lisan dan tangan saja bahkan sampai menjaga perasaan agar tidak terluka.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibunda ‘Aisyah Ummilmukminin radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  نِعْمَ الْأُدُمُ، أَوِ الْإِدَامُ ‌الْخَلُّ

bahwa Nabi ﷺ bersabda, “sebaik-baiknya lauk adalah cuka.”

Rasulullah SAW pagi itu datang ke rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan bertanya tentang ketersediaan lauk. Namun pagi itu hanya ada cuka di rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Nabi SAW menanggapinya dengan sikap yang luar biasa. Alih-alih marah apalagi kesal, justru Rasulullah SAW memuji lauk tersebut sembari menyebutnya sebagai lauk yang terbaik.

 Rasulullah SAW mengajari umatnya dua hal.

Pertama, pantang bagi pria untuk menyakiti hati pasangannya. Lemah lembut dalam bersikap harus menjadi yang terdepan untuk dilakukan. Sebab kehidupan berumah tangga tidaklah berhitung bulan dan tahun, melainkan berpondasi takwa dan keimanan. Apabila rumah tangga masih tegak dalam iman dan takwa maka ia harus dipertahankan hingga nafas terakhir terhembus.

Kedua, Nabi SAW mengajarkan kesederhanaan dalam membangun rumah tangga. Makanan yang terbaik bukanlah makanan yang mahal harganya karena dibuat dari bahan yang terbaik dan paling berkualitas. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa makanan yang terbaik adalah makanan yang halal dan membuat orang yang memakannya mendapatkan energi untuk beribadah kepada Allah SWT.

Hal lain yang tak kalah penting diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam bermuamalah dengan keluarganya adalah kepandaian beliau dalam membagi waktunya dirumah.

Imam At Tirmidzi menyampaikan bahwa Rasulullah membagi waktunya ketika di rumah menjadi tiga bagian utama. Pertama, waktu untuk Allah SWT untuk beribadah, sholat sunnah dan sebagainya. Kedua, waktu untuk keluarga yang beliau gunakan untuk berkomunikasi dengan istrinya mendengarkan keluh kesah sehari-hari. Ketiga, waktu untuk privasi. Kegiatan yang khusus beliau gunakan untuk dirinya. Dan ketiganya diletakkan secara adil dan proporsional demi tercapainya keharmonisan.

Begitulah Nabi Muhammad SAW menjadi figur utama bagi setiap muslim dalam membentuk keluarga yang terbaik. Keluarga yang punya visi dan misi serta SOP yang jelas sesuai pandangan syariat. Kaum muslimin patut bersyukur dan berbahagia telah diberikan sosok agung nan mulia seperti Rasulullah SAW yang telah menjadi contoh dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana. Mari melimpahkan shalawat atas Nabi kita yang mulia. Shallu ‘alan Nabiy.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 63         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 198       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Hot Categories