Home » Kajian & Hikmah » Langit yang Sama, Cara yang Berbeda

Langit yang Sama, Cara yang Berbeda

admin 01 Mar 2025 573

Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes)

Dasar kita melaksanakan puasa Ramadan adalah ketika melihat hilal atau bulan sabit muda. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka sempurnakanlah bilangan Syakban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari).

Dalam praktiknya, penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah sering kali menimbulkan pertanyaan dan perdebatan. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam teknik pelaksanaan dan kriteria yang digunakan.

Umumnya, penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah menggunakan metode hisab (perhitungan) dan metode rukyat (pengamatan). Namun, di Indonesia, dalam praktiknya terdapat tiga metode yang digunakan, yaitu rukyatul hilal, imkan rukyat, dan hisab wujudul hilal.

1. Rukyatul Hilal

Rukyatul hilal adalah metode observasi langsung terhadap hilal saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan kamariah. Biasanya, metode ini menggunakan bantuan teropong. Jika hilal tidak terlihat, baik karena faktor cuaca maupun posisi bulan itu sendiri, maka bulan kamariah dianggap genap 30 hari.

Kelemahan metode rukyatul hilal adalah tidak memungkinkan pembuatan kalender jauh ke depan. Umat Islam di dunia tidak bisa memiliki kalender Hijriah global tunggal seperti kalender Masehi. Metode rukyatul hilal dipedomani oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan sebutan Rukyatul Hilal Bil Fi’li, yang berarti melihat bulan secara langsung, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu seperti teropong.

2. Imkan Rukyat

Imkan rukyat berarti mempertimbangkan kemungkinan hilal dapat terlihat. Metode ini digunakan untuk menjembatani rukyat dan hisab. Bisa dibilang, mungkin pemerintah sebenarnya ingin mencari jalan tengah antara Muhammadiyah dan NU yang merupakan representasi wajah Islam di Indonesia.

Imkan rukyat ini cukup unik. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) sebenarnya sudah mengetahui kapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah menggunakan metode hisab. Hasil hisab pun sudah jelas:

Jika tinggi hilal tidak memenuhi kriteria 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat, maka Syakban digenapkan menjadi 30 hari.

Jika memenuhi, maka besar kemungkinan hilal dapat terlihat menggunakan teropong.

Ada sedikit candaan, kalau tinggi hilal di atas 3 derajat, Menteri Agama bisa tenang. Kalau tinggi hilal 3 derajat lebih sedikit, cuaca tidak menentu, atau bahkan tinggi hilal di bawah 3 derajat, Menteri Agama agak pusing, karena bisa dipastikan awal bulan berbeda.

Kelemahan dari imkan rukyat yang dipedomani pemerintah adalah tidak adanya kesepakatan universal mengenai tinggi hilal yang mungkin dapat dilihat. Kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura) menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Namun, beberapa negara dan komunitas Muslim lainnya memiliki kriteria yang berbeda.

3. Hisab Wujudul Hilal

Metode ini digunakan Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan Hijriah dengan pendekatan ilmu astronomi dan matematika. Sederhananya, jika saat matahari terbenam hilal sudah berada di atas ufuk—berapapun tingginya—maka dianggap cukup untuk menandai awal bulan baru, meskipun hanya nol koma sekian derajat.

Apakah NU menolak hisab? Enggak. NU juga menggunakan hisab, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai acuan utama dalam penetapan awal bulan.
Apakah Muhammadiyah menolak rukyatul hilal? Enggak juga. Muhammadiyah memiliki banyak observatorium untuk mengamati pergerakan bulan. Bedanya, Muhammadiyah berpegang pada prinsip bahwa berapapun tingginya hilal, jika sudah di atas ufuk, maka itu menandai awal bulan.

Pada dasarnya, Muhammadiyah dan NU sama-sama menerima metode hisab dan rukyat. Keduanya adalah produk hukum Islam, hanya saja memiliki ijtihad yang berbeda dalam menentukan awal bulan kamariah.

Jika tinggi hilal di atas 3 derajat, insya Allah Muhammadiyah dan NU akan memulai puasa dan Lebaran pada hari yang sama.

Jika di bawah 3 derajat, ya sudah pasti beda.

Meskipun pemerintah ingin menyatukan keduanya, tetap sulit karena kriteria dan metode yang digunakan berbeda.

Perbedaan Itu Keniscayaan

Perbedaan dalam penentuan awal bulan mestinya tidak menjadi sumber perpecahan. Justru, perbedaan ini bisa menambah semangat kita untuk terus belajar, mencari tahu letak perbedaannya, memahami dalilnya, sehingga memperluas wawasan dan membuat kita lebih bijak.

Perbedaan seharusnya tidak membuat kita merasa paling benar dan yang lain salah. Santai saja.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 63         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 199       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Hot Categories