
Menjaga Iman di Era Fitnah: Jalan Para Manusia Terbaik
Syarah Kitab Al Arba’in Ar Rambaniyyah fii I’daad Khair Al Bariyyah
(Kumpulan 40 Hadits tentang Pembentukan Generasi Terbaik)
karya Assoc. Prof. Dr. KH. Akhmad Alim Lc., MA.

Oleh: Ust. Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf PCM Bogor Barat)
عن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: ألا أخبركم بخير البرية؟ قالوا: بلى يا رسول الله. قال: رجل أخذ بعنان فرسه في سبيل الله، فلما كانت صعبة استوى عليه، ألا أخبركم بشرّ البرية؟ قالوا: بلى. قال: الذي يسأل الله ولا يعطى به. (رواه أحمد والترمذي والنسائي)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “tidakkah engkau ingin aku kabari tentang sebaik-baiknya manusia?.” Mereka menjawab : “mau wahai rasulullah”. Rasulullah melanjutkan, “seseorang yang mengambil tali kekang kudanya untuk menempuh jalan Allah, maka ketika datang waktu yang sulit, ia masih bertahan diatas kudanya. Maukah kalian aku kabarkan tentang seburuk-buruknya manusia ?”. mereka menjawab, “kami mau wahai Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan, “orang yang berdoa kepada Allah tetapi ia tidak diberi atas doanya itu.” (HR. Ahmad, at Tirmidzi dan an Nasa’i)
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingatkan kepada umatnya bahwa kelak akan datang suatu zaman yang dikenal sebagai zaman fitnah. Zaman fitnah adalah kondisi di saat segala sesuatu menjadi sangat sulit untuk dipertahankan, terutama keimanan. Seorang muslim akan mendapati dirinya dihadapkan dengan kondisi ia harus mempertahankan keimanannya atau melucutinya karena terpengaruh dengan beratnya kondisi zaman. Dan disaat itulah orang yang terbaik adalah orang yang mempertahankan keimanannya sebagaimana diibaratkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti orang yang memegang kuat tali kekang kudanya.
Keimanan adalah hadiah terbesar sekaligus hal paling berharga yang dimiliki oleh seorang muslim. Iman bermakna membenarkan setiap kabar dan arahan dengan akal pikiran (hati), ucapan dan perbuatan. Kata Iman diambil dari kata “al amnu” yang bermakna rasa aman serta pengakuan yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Kata Iman juga bermakna “al amanah” yang berarti amanah dan tanggung jawab. Dimaknai demikian sebab kata iman berkonsekuensi memikul tanggung jawab atas informasi ghaib yang disampaikan kepadanya. Bagi Rasul iman adalah informasi dan arahan yang wajib disampaikan dan bagi orang yang beriman maka ia bertanggung jawab untuk mengimplementasikan keimanannya pada hati, ucapan dan perbuatan.
Keimanan menjadi kunci yang membuat pemiliknya memiliki tujuan hidup yang jelas. Perjalanan di alam dunia bagi seorang mukmin ibarat singgah di sebuah tempat perbekalan. Ia perlu menimbang dan mengatur strategi agar perbekalannya cukup untuk digunakan selama perjalanan sampai tempat tujuan. Tidaklah seorang musafir mengatur perbekalannya agar sampai dengan selamat di tujuan kecuali iman mengarahkannya. Hal ini penting untuk disadari sebab jangan sampai kita terlalu asik di tempat berbekal hingga lupa ada batas waktu yang mengharuskan kita untuk melanjutkan perjalanan.
Berkaitan dengan status keimanan dalam menghadapi zaman fitnah, Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan bahwa orang yang terbaik di zaman itu adalah orang yang teguh menggenggam keimanannya. Nabi menggambarkan kondisi tersebut seperti orang yang menggenggam kuat tali kekang kudanya. Meskipun goncangan demi goncangan ia rasakan, si penunggang kuda tetap teguh berusaha duduk di atas kudanya sembari menggenggam tali kekang kuda agar tidak jatuh. Begitulah gambaran orang yang beriman di akhir zaman, ia tidak akan terlepas dari berbagai godaan dan ujian yang menghantam keimanannya. Beratnya kondisi yang ia hadapi, diiringi dengan ambisi yang kuat untuk mempertahankan keimanan membuatnya pantas untuk menyandang gelar manusia yang terbaik.
Mempertahankan keimanan di akhir zaman dapat dicapai dengan dua cara. Pertama, tetap teguh menunaikan kewajiban keimanan sembari terus menyerukan dakwah kepada keimanan secara terang-terangan. Dakwah kepada keimanan di zaman modern mencakup dunia nyata dan dunia maya. Keduanya penting untuk terus diserukan kepada keimanan sebab di zaman modern manusia tidak bisa melepaskan diri dari keduanya dalam kehidupan mereka. Segala sesuatu yang dapat menunjang keberhasilan dakwah pun harus diupayakan dengan maksimal. Tidak tepat rasanya bilamana untuk menggapai kenikmatan dunia yang sesaat kita rela menabung dan membelanjakan harta untuknya sementara untuk kehidupan akhirat yang kekal justru kita hanya mengupayakan seadanya. Maka berikanlah yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Kedua, mempertahankan keimanan dengan cara uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk dunia. Menjauhkan diri yang dimaksud dalam hal ini adalah sebagai upaya untuk menjaga keimanan dari godaan dan ujian yang akan datang. Seseorang memutuskan hubungan keduniaannya dengan cara tinggal di tempat yang jauh untuk fokus beribadah dan menjauhkan dirinya dari segala hal yang dapat menggoyahkan keimanannya termasuk di dalamnya media sosial.
Kedua cara tersebut adalah jalan yang dapat ditempuh untuk tetap menjaga keimanan di kala beratnya zaman fitnah datang melanda. Namun hal penting yang harus menjadi dasar bagi setiap hamba ketika memilih satu diantara dua jalan tersebut adalah sebagaimana prinsip hidup Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- yaitu; Pertama, tidaklah hidup kecuali untuk berjuang di jalan Allah. Kedua, tidaklah hidup menjadi pantas untuk diperjuangkan kecuali untuk bersujud kepada Allah. Ketiga, tidaklah hidup jadi bermakna kecuali dengan bergaul dengan orang-orang sholeh.
Di bagian terakhir dari hadits di atas, Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menutupnya dengan menyebutkan manusia terburuk. Yaitu orang-orang yang berdoa namun doanya tidak terkabul. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab Nabi kita pernah bersabda :
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad)
Berdasarkan hadits diatas pantaslah kemudian bila dikatakan bahwa orang yang tidak terkabul doanya adalah orang yang paling buruk di atas muka bumi. Sebab pada hukum asalnya doa seorang hamba itu pasti terkabul meskipun kemudian Allah -Subhanahu wa Ta’aala- mengabulkannya ke dalam tiga bentuk sesuai dengan pengetahuan-Nya yang terbaik bagi hambanya. Di sisi lain, berdoa adalah bentuk dari ketundukan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Berdoa pun menjadi identitas seorang muslim yang menunjukkan kebutuhannya kepada Penciptanya dan itulah ikatan yang paling kuat dan mulia.
admin
15 Jul 2026
Post Views: 34 Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …
admin
07 Jul 2026
Post Views: 63 Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .” — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …
admin
17 Jun 2026
Post Views: 101 Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …
admin
21 Feb 2026
Post Views: 220 Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …
admin
02 Jan 2026
Post Views: 198 Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …
admin
16 Des 2025
Post Views: 156 Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …
11 Agu 2025 979 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana. Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris …
16 Apr 2025 969 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Belakangan ini, antrean panjang di toko-toko emas dan gerai logam mulia jadi pemandangan yang cukup umum. Banyak orang rela menunggu demi bisa membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Fenomena ini bukan tanpa alasan—emas dianggap sebagai aset safe haven, aset yang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai …
06 Apr 2025 954 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Setiap menjelang hari raya, khususnya Idulfitri, tradisi pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) jadi momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Selain yang bersifat formal seperti THR untuk karyawan, ada juga versi yang lebih informal tapi nggak kalah penting: THR untuk keluarga dan kerabat. Tradisi ini sudah mengakar cukup …
04 Jul 2025 906 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Beberapa hari yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan menerbitkan izin pendirian Bank Syariah Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan segera dimuat di berbagai media. Tak pelak, masyarakat umum—terutama warga Muhammadiyah—ramai membicarakan dan …
21 Mar 2025 900 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan? Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun …
Comments are not available at the moment.