Home » Kajian & Hikmah » Ramadhan: Momentum Keberkahan, Tarbiyah, dan Transformasi Diri

Ramadhan: Momentum Keberkahan, Tarbiyah, dan Transformasi Diri

admin 01 Mar 2025 246

Oleh: Ust. Ahmad Fathoni (Guru Mapel Ekonomi MA Darul Ihsan Cibungbulang)

Detik-detik “Injury Time” menuju akhir Sya’ban semakin dekat. Bulan Ramadhan hanya terhitung beberapa jam saja. Kesibukan menyambut euforia ramadhan telah nampak di berbagai penjuru negeri. Berbagai ornamen telah disiapkan untuk menghias dan menyemarakkan “event” Ramadhan. Para pengusaha dan saudagar telah jauh-jauh hari mempersiapkan strategi untuk mendulang untung se-gunung. Ucapan permohonan maaf mulai berseliweran di grup keluarga, grup kantor, grup alumni dan grup-grup lainnya. Tak kalah gaungnya, pilihan menu sehat yang bisa mempertahankan rasa kenyang selama puasa untuk sahur dan berbuka pun sudah bisa kita dapati resepnya. Namun, ada yang aneh. Gema doa-doa yang biasanya terus terlantun di tiap-tiap langgar dan surau, malah mulai “serak” terdengar di telinga kita.

اللهم بارك لنا فيما بقي من شعبان و بلغنا رمضان

“Ya Allah berkahi kami di waktu yang tersisa di bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Tersirat dalam kalbu banyak pertanyaan, “apakah Ramadhan ini adalah event silaturahmi bukber ?”, “apakah Ramadhan adalah momen “high season” untuk meraup untung segunung ?”, atau “apakah Ramadhan adalah momentum untuk memulai resolusi kesehatan fisik melalui detoksifikasi tubuh dengan berpuasa dan  memulai menu-menu makanan sehat ?”; dan segudang pertanyaan lain yang membutuhkan jawaban.

Menunjukkan kebahagiaan menyambut ramadhan adalah salah satu kebiasaan orang-orang saleh terdahulu (salafus soleh). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menyampaikan kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in,

قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ‌يبشر ‌أصحابه: قدْ جاءَكمْ شهرُ رمضانَ، شهرٌ مباركٌ افترضَ اللهُ عليكُمْ صيامَهُ، يفتحُ فيهِ أبوابُ الجنةِ، ويغلقُ فيهِ أبوابُ الجحيمِ، وتغلُّ فيهِ الشياطينُ، فيهِ ليلةٌ خيرٌ مِنْ ألفِ شهرٍ، مَنْ حُرِمَ خيرَها فقدْ حرِمَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan ramadhan, ialah bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya, Allah juga membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, para setan dibelenggu dan di dalamnya (ramadhan) ada satu malam yang lebih baik (nilainya) daripada seribu bulan. Siapa saja yang diharamkan (kebaikan) di bulan ramadhan maka sungguh ia diharamkan (di bulan yang lainnya). (HR. An-Nasai)

Bergembira atas kedatangan ramadhan adalah salah satu ciri sehatnya iman seseorang. Betapa tidak, Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya lathaiful Ma’aarif mengutip sebuah hadits Nabi SAW, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, pemImpinnya para bulan, maka sambutlah dengan suka cita” . Ibnu Rajab melanjutkan dengan perkataan dari Mu’alla bin al-Fadhl bahwasanya generasi terdahulu terbiasa untuk berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan ramadhan sejak 6(enam) bulan sebelumnya. Menunjukkan betapa pertemuan dengan bulan Ramadhan senantiasa dirindu dan dinanti oleh setiap insan yang beriman.

Pertemuan dengan bulan ramadhan adalah kebahagiaan yang tak dapat ditakar materi. Setiap insan yang beriman akan bahagia sebab di dalamnya ada sangat banyak kesempatan untuk masuk ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Oleh karenanya, kesempatan bertemu dengan ramadhan tak boleh disia-siakan seperti berjumpa dengan momen tahunan biasa. Shiyam ramadhan harus dipahami oleh setiap insan beriman sebagai pertahanan diri tak hanya dari makan dan minum semata. Melainkan juga mencakup amal bathiniyah yang merupakan esensinya. Shiyam tak hanya menghalangi mulut dan mata dari hal yang diharamkan, melainkan juga menghalangi dari berbagai perkataan kotor yang dapat mencemari hati. Itulah esensi sebenarnya dari shiyam ramadhan.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa saja yang tidak dapat meninggalkan perkataan yang dusta maka sungguh Allah tidak punya kepentingan dengan puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari)

Demikianlah harusnya perjumpaan dengan ramadhan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh karenanya banyak diantara para ulama yang menyematkan bulan ramadhan sebagai bulan tarbiyah(pendidikan). Yaitu bulan mendidik diri, jiwa dan hati agar menjadi pribadi yang baik secara spiritual dan sosial ketika masuk di bulan syawal dan seterusnya hingga dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan berikutnya bidznillah.

Akhirnya, bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah persiapkan bagi orang beriman untuk mnyempurnakan kewajibannya di dunia, yaitu beribadah kepada-Nya. Segala fasilitas serta sarana prasarana telah diperseiapkan sedemikian rupa agar insan beriman bisa memaksimalkan usaha untuk meraup keberkahan dan rahmat Allah di dalamnya. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil memanfaatkan kesempatan emas ini di bulan ramadhan maka jangan berangan bahwa di bulan lain ia akan menyempurnakan banyak amalan yang ia angan-angankan itu.


أتاكُم رَمضانُ شَهرٌ مبارَك ، فرَضَ اللَّهُ عزَّ وجَلَّ عليكُم صيامَه ، تُفَتَّحُ فيهِ أبوابُ السَّماءِ ، وتغَلَّقُ فيهِ أبوابُ الجحيمِ ، وتُغَلُّ فيهِ مَرَدَةُ الشَّياطينِ ، للَّهِ فيهِ ليلةٌ خيرٌ من ألفِ شَهرٍ ، مَن حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan dibelenggu setan-setan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang (dari seluruh kebaikan)”(HR. Al-Nasai)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Skuad Bintang vs Skuad Matang: Seni Menahan Diri

admin

15 Jul 2026

Post Views: 34         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …

Setipis Peluit Akhir

admin

07 Jul 2026

Post Views: 63         Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .”  — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …

Meneladani Tangis Rasulullah dalam Menghadapi Akhirat

admin

17 Jun 2026

Post Views: 101  Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …

Ramadan : Bulan Multi Nama, Satu Misi Bertransformasi

admin

21 Feb 2026

Post Views: 220         Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …

Waktu, Ketaatan, dan Keabadian: Belajar Efektivitas Hidup dari Rasulullah SAW

admin

02 Jan 2026

Post Views: 199       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …

Masih Banyak yang Patut Disyukuri: Iman di Tengah Bencana

admin

16 Des 2025

Post Views: 156       Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …

Hot Categories