
Refleksi Diri 2024: Merajut Harapan, Menjemput Rahmat di 2025

Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (kadiv kerohanian Club New Colour Tiger Independent Bogor Barat)
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ }
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Hasyr: 18]
Salah satu sifat utama orang yang beriman kepada Allah SWT adalah sifat suka evaluasi dan refleksi diri. Perintah untuk selalu mengevaluasi dan merefleksikan diri tersebut pada dasarnya tidak terikat pada satuan waktu 12 bulan atau setahun lamanya, melainkan dilakukan dalam periode waktu yang lebih pendek yaitu setiap hari. Hal ini sebagaimana hadist yang sangat masyhur diriwayatkan di dalam Musnad Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengenai amalan calon penghuni surga yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ketika bersama pada sahabatnya. Setelah “diulik” oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma barulah diketahui bahwa amalan yang memasukkannya kedalam surga adalah ketiadaan rasa dengki dan iri kepada manusia yang lain dan hal itu mudah dilakukan sebab ia senantiasa merefleksikan dirinya di setiap malam sebelum tidurnya. Mengapa refleksi diri lebih utama dilakukan di periode waktu yang lebih singkat (setiap hari) ? Sebab manusia tidak tahu kapan ajalnya akan tiba sementara perhitungan amal sangat mendetail dan tidak akan luput mencatat amal manusia sekecil apapun bentuknya. Namun demikian tidak mengapa menjadikan periode waktu tahunan yang mengikat aktivitas keseharian kita untuk dijadikan periode refleksi diri meskipun setiap hari lebih utama.
Refleksi di tahun 2024
Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat berwarna dan memberikan banyak pengaruh pada kehidupan manusia, tidak terlepas bangsa Indonesia. Ada banyak momen yang terjadi di dalam berbagai bidang kehidupan. Di bidang politik misalnya, Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pemilu dan pilkada dengan aman dan kondusif meskipun hasilnya masih menjadi PR yang menyibukkan Mahkamah Konstitusi. Di bidang Teknologi, kita melihat ada perubahan signifikan dalam gaya hidup masyarakat yang mulai beralih ke dunia digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam memudahkan aktifitasnya bahkan tak luput dalam pendidikan dan status sosial mereka. Di bidang keuangan dan hukum, masih hangat kabarnya di berbagai media mengenai terdakwa korupsi yang merugikan negara hingga 300 T rupiah yang hanya mendapatkan vonis penjara di bawah 10 tahun dan denda 1 M rupiah. Belum lagi kasus yang sedang berjalan soalan lembaga pendidikan tinggi yang menjadi markas pencetakan uang palsu yang disinyalir menjadi penyuplai biaya pemilu. Sementara itu lingkungan dan alam sedang tidak sehat, bencana banjir bandang serta longsor yang menimpa berbagai daerah pasca cuaca ekstrim yang melanda tak luput menjadi bahan refleksi kita semua. Beberapa hal yang terjadi di tahun 2024 tersebut kita sadari bersumber dari perilaku manusia yang melampaui batas. Banyak kerusakan yang terjadi sebab manusia tidak lagi mempertimbangkan baik-buruk dalam berprilaku. Standar etika dan moral telah hilang hingga akhirnya manusia menjadi bebas berbuat apa saja kepada siapa saja bahkan kepada alam sekalipun yang menjadi tempat ia menautkan hidupnya.
Nasehat Nabi
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar salah seorang sahabat yang menasehati saudaranya agar tidak menjadi orang yang terlalu pemalu. Mendengar hal tersebut Nabi menanggapinya dengan berkata “Rasa Malu itu bagian dari Keimanan”. Nasehat nabi ini mengingatkan kita bahwa rasa malu adalah sifat yang harus dimiliki orang yang beriman. Rasa malu menjadi benteng terakhir yang menjaga seseorang untuk berbuat sesuatu. Bagi orang yang beriman rasa malu menjadi benteng yang melindunginya untuk berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah SWT sekaligus menjadi pendorong baginya untuk giat beramal, sebab setiap amalannya disaksikan oleh Allah SWT.
Orang yang kehilangan rasa malu tidak akan punya batasan dalam berbuat. Seringkali hal tersebut mempengaruhi orang lain dan membuat sesuatu yang viral tampak baik dan seakan merupakan bentuk ekspresi diri. Padahal di dalamnya mungkin terdapat unsur mengungkap aib diri sendiri dan merugikan banyak pihak. Di zaman digital seperti saat ini misalnya, kita dapati banyak orang yang mengumbar aib dirinya dan orang lain, tidak hanya itu banyak pula yang memposting konten negatif yang mempertontonkan kekerasan, ketelanjangan hingga perilaku amoral lainnya. Di bidang ekonomi sebab tidak ada rasanya malu banyak orang yang sudah tidak peduli halal dan haram untuk mereka dan keluarganya konsumsi. Di bidang pendidikan, joki skripsi, tesis dan disertasi bahkan mafia jurnal internasional pun tak luput merajalela. Judi dan pinjaman online semakin mencengkram masyarakat dengan cakarnya hingga akhirnya tak jarang melukai keluarga dan berakhir putus akad dan bercerai. Serta sederet hal negatif lainnya yang kita ingat menghiasi tahun 2024.
Memiliki dan merawat rasa malu sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW sangat urgen dan mempengaruhi kehidupan manusia. Rasa malu mencegah seserang berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Imam As Samarqandi dalam nasehatnya menyebutkan ada 4 cara menjaga dan merawat rasa malu :
- Menjaga kepala dan isinya : menjaga mata, lisan serta pikiran (menjaga alam pikiran dengan husnudzon kpd Allah)
- Menjaga perut dan isinya : tidak sedikitpun memasukkan hal yg haram ke dalam perutnya (selektif), banyak orang yg mengkonsumsi hasil curian karena hilangnya rasa malu
- Mengingat mati dan kehancuran : orang yg pandai mengingat kematian maka rasa malunya akan tumbuh begitu pula imannya (Kematian adalah nasehat tanpa kata dan retorika).
- Meninggalkan aksesoris keduniaan maksudnya adalah tidak menjadikan dunia sbg orientasi kehidupan.
Harapan di tahun 2025
Buruknya masa lalu tidak boleh membatasi seorang mukmin untuk bersedih hati apalagi sampai menghalanginya untuk tetap taat dan menjauhi maksiat. Hal itu karena seorang yang beriman berprinsip bahwa akhir dari amalnya adalah akhir hembusan napasnya di dunia ini. Selama masih ada napas yang berhembus maka saat itu kesempatannya untuk beramal masih terbuka lebar dan peluangnya untuk menjadi lebih baik masih terus ada. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun atas segala kesalahan maka raihlah rahmat Allah SWT dengan usaha yang terbaik di periode yang baru ini.
{ ۞ قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ }
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhanya Allah mengampuni dosa-dosasemuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[Surat Az-Zumar: 53]
admin
15 Jul 2026
Post Views: 34 Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Imam Masjid As Sofia) 90 menit pertandingan sepakbola selalu saja berhasil menguji degup jantung dan hati. Pandangan mata enggan berkedip untuk kehilangan momen silih berganti bola yang berpindah kaki. Tidak hanya gol dan kemenangan yang dicari. Selalu ada drama yang menghiasi. Pelajaran berharga …
admin
07 Jul 2026
Post Views: 63 Oleh : Ahmad Fathoni, M.E (Ketua Majelis Wakaf, PCM Bogor Barat) “Tidaklah ada batas yang terang antara saat suka dengan saat duka. Kadang-kadang di dalam duka ini sendiri terdapat suka dan di saat suka terdapat duka .” — Lembaga Budi, Buya HAMKA Tak ada yang benar-benar pasti kecuali …
admin
17 Jun 2026
Post Views: 101 Oleh : Sulaeman Jajuli (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Bogor) Tangis, tangisan atau menangis adalah rangkain peristiwa fitrah yang sengaja dihadirkan oleh Allah untuk manusia. Allah berfirman-yang artinya-,” Dia-lah yang menciptakan tersenyum dan menangis itu ( Al-Najm : 43). Berkait dengan ayat tersebut, Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa Allah-lah hakikatnya yang menciptakan, kenapa kita …
admin
21 Feb 2026
Post Views: 220 Oleh: Sugijanto Soewadi (Pemerhati Sosial, Lingkungan dan Peradaban Islam) Ramadhan Bukan Sekadar Bulan Puasa Setiap tahun umat Islam memasuki satu fase spiritual yang unik: bulan Ramadhan. Namun menariknya, dalam tradisi Islam Ramadhan tidak hanya disebut sebagai “bulan puasa”. Ia memiliki banyak laqab (gelar) yang masing-masing menyimpan makna mendalam. …
admin
02 Jan 2026
Post Views: 198 Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Demikian agungnya kedudukan waktu, hingga Allah SWT bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya. Imam Al-Shafi’i. rahimahullah bahkan pernah berkata: “لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ” “Seandainya manusia merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), niscaya ia telah cukup bagi mereka.” Dalam penjelasan lain, beliau menegaskan …
admin
16 Des 2025
Post Views: 156 Oleh: Rahmat Saptono (Pengajar Manufaktur Logam di Universitas Indonesia) Deru berita tentang bencana alam—kebakaran hutan, banjir, badai—tak kunjung reda. Di tengah hantaman gelombang itu, terselip kisah ketangguhan yang tak mudah sirna. Beberapa tahun silam, saya membaca wawancara dengan sepasang lansia di Sydney yang kehilangan segalanya akibat kebakaran hebat. Mereka …
11 Agu 2025 979 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana. Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris …
16 Apr 2025 969 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Belakangan ini, antrean panjang di toko-toko emas dan gerai logam mulia jadi pemandangan yang cukup umum. Banyak orang rela menunggu demi bisa membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Fenomena ini bukan tanpa alasan—emas dianggap sebagai aset safe haven, aset yang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai …
06 Apr 2025 954 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Setiap menjelang hari raya, khususnya Idulfitri, tradisi pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) jadi momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Selain yang bersifat formal seperti THR untuk karyawan, ada juga versi yang lebih informal tapi nggak kalah penting: THR untuk keluarga dan kerabat. Tradisi ini sudah mengakar cukup …
04 Jul 2025 906 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Beberapa hari yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan menerbitkan izin pendirian Bank Syariah Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan segera dimuat di berbagai media. Tak pelak, masyarakat umum—terutama warga Muhammadiyah—ramai membicarakan dan …
21 Mar 2025 900 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan? Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun …
2 Komentar
Aziantoro>
31 Desember 2024 | 11:46 amMaa Syaa Allah, Terimakasih ustd
Semoga jadi amal ibadah
Martono>
31 Desember 2024 | 11:09 pmTulisan tersebut sangat bagus dan inspiratif,semoga kita semua dapat merefleksikannya,Aamiin