
Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University)
BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, lalu merambat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Tidak hanya itu, awal musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dari biasanya. Curah hujan selama periode kemarau pun diperkirakan berada pada kategori di bawah normal, artinya lebih kering dari kondisi umumnya. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, dan itu pun datang lebih awal. Bahkan sekitar 57,2% wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Kalau kita mundur sedikit ke bulan Desember kemarin, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia justru sangat tinggi. Di Sumatera, kondisi ini bahkan memicu bencana banjir. Hujan seringkali dituding sebagai penyebab utama. Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah sudah menegaskan dalam surat Az-Zukhruf ayat 11:
وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ
“Dan Dialah yang menurunkan air dari langit menurut ukuran, lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hujan tidak pernah turun secara kebetulan. Semuanya terukur, presisi, tidak kurang dan tidak lebih. Maka ketika Allah menurunkan air dalam jumlah tertentu, sejatinya itulah yang dibutuhkan oleh bumi dan manusia. Yang menjadi persoalan bukan pada hujannya, tetapi pada cara kita mengelolanya.
Ketika air melimpah, kita tidak siap menampung dan mengelolanya. Akibatnya banjir. Namun ketika kemarau datang, kita juga tidak siap, sehingga kekeringan terjadi di mana-mana. Di sinilah letak pentingnya ikhtiar manusia dalam mengelola nikmat Allah, agar tidak berubah menjadi musibah.
Fenomena kemarau panjang atau paceklik ini bukan hal baru. Dalam sejarah, hal ini pernah terjadi di masa Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bahkan berlangsung selama tujuh tahun. Bayangkan, tujuh tahun lamanya masa sulit itu berlangsung. Kisah ini bermula dari mimpi Raja Mesir tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir gandum kering.
Nabi Yusuf menafsirkan mimpi tersebut sebagai isyarat akan datangnya masa sulit. Beliau kemudian menyarankan agar masyarakat memanfaatkan tujuh tahun masa subur dengan bercocok tanam secara maksimal, lalu menyimpan hasil panen sebagai cadangan untuk menghadapi tujuh tahun paceklik. Ini adalah contoh nyata bagaimana mitigasi bencana direncanakan dengan matang—tidak panik saat krisis datang, karena persiapan sudah dilakukan jauh hari sebelumnya.
Di masa Rasulullah SAW juga pernah terjadi kekeringan. Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat mengadu bahwa ternak-ternak mati dan tanah retak karena kering. Lalu Rasulullah SAW mengangkat tangan dan berdoa:
“Allahummasqinâ, Allahummasqinâ, Allahummasqinâ.”
(Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami)
Maka turunlah hujan, padahal sebelumnya langit begitu cerah tanpa awan. Ini menunjukkan bahwa selain ikhtiar, doa juga menjadi kekuatan yang tidak boleh ditinggalkan. Usaha tanpa doa akan kering, dan doa tanpa usaha juga tidak sempurna.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab, paceklik kembali terjadi. Namun karena wilayah kekuasaan sudah sangat luas, strategi yang digunakan berbeda. Umar membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat, tidak terpusat seperti di masa Nabi Yusuf. Dari sini kita belajar bahwa menghadapi krisis, termasuk kemarau panjang, bukan hanya urusan individu, tetapi juga tanggung jawab kepemimpinan dalam menjaga kesejahteraan umat.
Hari ini, berdasarkan data Bulog, stok beras nasional masih aman hingga akhir tahun. Ini tentu menjadi kabar yang menenangkan. Artinya, secara umum kita masih punya cadangan untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi global sedang tidak menentu. Konflik geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia berdampak pada banyak sektor. Harga kebutuhan pokok mulai naik, BBM dan gas mengalami penyesuaian, dan pupuk pertanian ikut melonjak. Semua ini berpotensi memicu kenaikan harga pangan.
Di samping itu, kemarau panjang juga berisiko memperburuk kualitas udara, terutama di kota-kota besar. Minimnya hujan membuat polutan seperti debu dan partikel halus tidak tersapu, sehingga udara menjadi lebih kotor dan berbahaya bagi kesehatan. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi perlahan akan mempengaruhi kualitas hidup kita.
Maka dari kisah Nabi Yusuf, kita diajarkan untuk tidak menghabiskan semua yang kita miliki hari ini. Kita perlu menyisihkan sebagian untuk masa depan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ
“Simpanlah sebagian hartamu, karena itu lebih baik bagimu.” (HR. Bukhari)
Hadis ini bukan hanya bicara soal harta, tetapi juga tentang sikap hidup: tidak boros, tidak berlebihan, dan memiliki perencanaan.
Tahun ini bisa jadi tahun yang agak berat. Kita menghadapi kemarau panjang, di saat yang sama tekanan ekonomi juga meningkat. Maka yang harus kita bangun adalah kepedulian sosial. Jagalah keluarga kita, perhatikan saudara dan tetangga kita. Jangan sampai ada di sekitar kita yang kesulitan makan atau bahkan kelaparan.
Percuma masjidnya megah, kasnya sampai puluhan juta, kalau ternyata masih ada umat Islam di sekitarnya yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Mari kita saling menguatkan, saling membantu, dan saling meringankan beban. Semoga Allah menjaga kita semua, melapangkan rezeki kita, dan memberikan kekuatan untuk terus menebar kebaikan di tengah situasi yang tidak mudah ini. Aamiin.
admin
11 Jul 2026
Post Views: 72 Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …
admin
03 Jun 2026
Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …
admin
26 Mar 2026
Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …
admin
10 Mar 2026
Post Views: 372 Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …
admin
14 Feb 2026
Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …
admin
07 Feb 2026
Post Views: 489 Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Wacana digitalisasi Muhammadiyah sejatinya bukan hal baru di lingkungan persyarikatan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, isu ini tampak mulai benar-benar digarap secara serius. Barangkali karena disadari bersama bahwa transformasi digital bukan perkara sederhana. Ia menuntut kesabaran, pembiayaan yang tidak sedikit, …
11 Agu 2025 977 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Pada dasarnya, menjadi generasi perintis atau pewaris sama-sama baik. Mau dicari kelebihan dan kekurangannya, ya pasti ada. Tinggal kita mau melihat dari sisi yang mana. Sering kali, kita justru membenturkannya. Seolah-olah generasi perintis adalah generasi terbaik karena memulai dari nol, sedangkan generasi pewaris …
16 Apr 2025 969 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Belakangan ini, antrean panjang di toko-toko emas dan gerai logam mulia jadi pemandangan yang cukup umum. Banyak orang rela menunggu demi bisa membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan. Fenomena ini bukan tanpa alasan—emas dianggap sebagai aset safe haven, aset yang cukup tangguh dalam menghadapi berbagai …
06 Apr 2025 954 views
Oleh : Abdul Rasyid (Personal Finance & Investment) Setiap menjelang hari raya, khususnya Idulfitri, tradisi pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) jadi momen yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Selain yang bersifat formal seperti THR untuk karyawan, ada juga versi yang lebih informal tapi nggak kalah penting: THR untuk keluarga dan kerabat. Tradisi ini sudah mengakar cukup …
04 Jul 2025 906 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Beberapa hari yang lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan menerbitkan izin pendirian Bank Syariah Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dan segera dimuat di berbagai media. Tak pelak, masyarakat umum—terutama warga Muhammadiyah—ramai membicarakan dan …
21 Mar 2025 900 views
Oleh : Abdul Rasyid (Sekretaris PC Muhammadiyah Banjarharjo Brebes) Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah selalu menjadi hal menarik yang ditunggu oleh umat Islam di Indonesia. Dari zaman dulu hingga saat ini, vibes-nya selalu sama. Selalu muncul pertanyaan, apakah puasanya barengan? Lebarannya barengan? Meskipun berkali-kali mengalami perbedaan, dalam hati kecil umat Islam di Indonesia—apa pun …
Comments are not available at the moment.