Home » Opini » 2045: Emas yang Kita Cari Bukan Hanya Materi

2045: Emas yang Kita Cari Bukan Hanya Materi

admin 01 Okt 2025 402

 

 

 

Oleh: Abdulloh Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat)

Indonesia punya cita-cita besar: menjadi negara maju saat genap berusia 100 tahun kemerdekaannya pada 2045. Visi yang disebut Indonesia Emas 2045 ini terdengar megah—ekonomi tumbuh pesat, teknologi melesat, dan bonus demografi jadi peluang emas. Tapi, mari jujur, apakah sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi cukup untuk membawa bangsa ini benar-benar “emas”?

Jawabannya: tidak.

Kalau pembangunan hanya diukur dari materi, kita berisiko melupakan sisi lain yang jauh lebih penting—spiritualitas, etika, dan keadilan sosial. Bukankah kita sudah sering melihat paradoks: daerah kaya sumber daya alam, tapi warganya masih banyak yang miskin? Atau pejabat berpendidikan tinggi, tapi justru jadi aktor korupsi kelas kakap? Inilah bukti nyata bahwa kemajuan tanpa fondasi moral ibarat bangunan megah di atas pasir.

Krisis Moral dalam Pembangunan

Kasus korupsi bantuan sosial di masa pandemi COVID-19 menjadi contoh telanjang bagaimana pembangunan yang mengabaikan nilai kemanusiaan bisa berakhir tragis. Bayangkan, bantuan untuk orang miskin pun tega dikorupsi. Itu sudah bukan lagi soal hukum, tapi soal hilangnya nurani.

Belum lagi soal kerusakan lingkungan. Banjir besar di Kalimantan Selatan pada 2021, misalnya, ternyata bukan sekadar “bencana alam”. Ia adalah hasil dari eksploitasi tambang dan perkebunan sawit yang merusak hutan. Akibatnya, masyarakat kecil yang jadi korban. Ini menegaskan satu hal: pembangunan yang tidak berlandaskan etika dan tanggung jawab ekologis pada akhirnya hanya melahirkan kerusakan.

Islam Wasathiyyah dan Maqasid al-Shari’ah: Kompas Moral

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, kita sebenarnya punya modal besar. Islam tidak hanya bicara soal ibadah ritual, tapi juga membawa seperangkat nilai yang bisa dijadikan kompas moral pembangunan. Dua konsep penting yang relevan adalah Islam Wasathiyyah (Islam moderat) dan Maqasid al-Shari’ah (tujuan-tujuan dasar syariat Islam).

Islam Wasathiyyah mengajarkan keseimbangan: tidak ekstrem kanan atau kiri, tidak liberal tanpa batas, tapi juga tidak kaku dan eksklusif. Prinsip ini bisa jadi perekat bangsa di tengah keberagaman. Sementara itu, Maqasid al-Shari’ah menawarkan lima tujuan utama: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Bahkan kini ditambah satu lagi: menjaga lingkungan. Jika tujuan-tujuan ini dijadikan dasar kebijakan, pembangunan Indonesia bisa lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Lima Pilar Menuju Indonesia Emas

Dari perspektif ini, pembangunan menuju Indonesia 2045 seharusnya berdiri di atas lima pilar:

1. SDM Unggul Berkarakter Rabbani

Pendidikan bukan hanya soal mencetak orang pintar, tapi juga orang baik. Koruptor lulusan luar negeri sudah cukup jadi alarm bahwa kecerdasan tanpa moral bisa berbahaya. Maka, pendidikan harus mengintegrasikan ilmu dengan iman.

2. Ekonomi Berkeadilan dan Berkelanjutan

Bukan hanya soal pertumbuhan, tapi juga pemerataan. Zakat, wakaf, dan ekonomi syariah bisa menjadi instrumen pengentas kemiskinan sekaligus menjamin keberlanjutan lingkungan. Prinsipnya sederhana: jangan ada yang kaya sendirian, dan jangan rusak bumi demi keuntungan sesaat.

3. Pemerintahan Amanah dan Bersih

Korupsi adalah pengkhianatan terbesar terhadap rakyat. Pemerintahan yang bersih bukan hanya butuh hukum yang tegas, tapi juga pembinaan moral aparatur negara. Kekuasaan seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan privilese.

4. Keluarga Sakinah dan Masyarakat Madani

Pembangunan sejati dimulai dari unit terkecil: keluarga. Keluarga yang kokoh akan melahirkan generasi yang sehat lahir batin. Dari sana lahir masyarakat madani—masyarakat yang adil, toleran, dan berkeadaban.

5. Kepemimpinan Global yang Menebar Rahmat

Indonesia berpotensi menjadi contoh Islam moderat di dunia. Di tengah maraknya ekstremisme dan Islamofobia, Indonesia bisa tampil sebagai duta perdamaian, promotor dialog antaragama, sekaligus pusat ekonomi halal global.

Menuju Peradaban Emas

Kalau peta jalan menuju Indonesia Emas hanya berhenti di angka pertumbuhan ekonomi, kita mungkin berhasil kaya tapi kehilangan arah. Sebaliknya, jika pembangunan ditempuh dengan fondasi moral, spiritual, dan sosial yang kuat, Indonesia bisa menjadi “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”—negeri yang baik dan penuh keberkahan.

Jadi, 2045 seharusnya tidak hanya tentang ekonomi, infrastruktur, atau teknologi. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan emas membangun peradaban yang berkarakter, adil, dan bermartabat. Karena emas sejati bukanlah kilau materi, tapi kejayaan bangsa yang berkeadaban.

Tulisan ini dirangkum dari Karya Tulis Ilmia melalui (AI). Selengkapnya bisa di baca di sini, Klik link https://drive.google.com/file/d/1lOqlMlZyop_ywA_kgeXcQLag8tWDqCub/view?usp=sharing

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 73         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 218         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 372       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories