Home » Opini » Belajar dari Al Khoziny: Keselamatan Adalah Amanah

Belajar dari Al Khoziny: Keselamatan Adalah Amanah

admin 07 Okt 2025 180

 

 

 

 

Oleh: Abdulloh Azzam 

Peristiwa robohnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo pada akhir September 2025 menjadi duka mendalam bagi seluruh bangsa. Setelah lebih dari sepekan proses pencarian, pada 7 Oktober 2025 aktivitas alat berat di lokasi resmi dihentikan. Berdasarkan data Basarnas dan BNPB, total korban yang dievakuasi mencapai 171 orang, terdiri dari 67 korban meninggal dunia termasuk delapan potongan tubuh yang masih menunggu hasil identifikasi dan 104 orang selamat.

Angka-angka itu bukan sekadar data di atas kertas. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan, para santri yang trauma, dan masyarakat yang bertanya-tanya: mengapa bangunan yang seharusnya menjadi tempat ibadah justru berubah menjadi lokasi bencana?

Lemahnya Standar dan Pengawasan

Tragedi Al Khoziny bukan hanya musibah, tetapi juga peringatan keras tentang lemahnya pengawasan serta penerapan standar keselamatan di fasilitas pendidikan keagamaan. Banyak bangunan pesantren di Indonesia didirikan secara swadaya bermodal niat baik dan semangat gotong royong namun sering kali tanpa pendampingan teknis dari ahli konstruksi.

Keterbatasan dana menjadi alasan umum untuk tidak melibatkan tenaga profesional seperti insinyur atau arsitek. Padahal, keselamatan bukanlah urusan sekunder. Niat baik tidak akan cukup bila bangunan berdiri di atas perhitungan yang keliru.

Lebih memprihatinkan lagi, dari lebih dari 42 ribu pondok pesantren di Indonesia, hanya sekitar 50 yang memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) lengkap. Artinya, ribuan bangunan tempat ribuan santri menimba ilmu berdiri tanpa jaminan keamanan yang pasti. Ini adalah kelalaian sistemik yang menunggu waktu untuk kembali memakan korban.

Tiga Langkah Mendesak

Pemerintah, DPR, dan masyarakat harus menjadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk memperbaiki sistem dari akar. Ada tiga langkah konkret yang patut segera diambil.

Pertama, audit struktur wajib. Pemerintah melalui Kementerian PUPR dan pemerintah daerah harus melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh bangunan pesantren, asrama, dan tempat ibadah. Setiap bangunan harus melalui uji kelayakan teknis sebelum digunakan.

Kedua, perketat perizinan. Kementerian Agama bersama pemerintah daerah harus memastikan bahwa setiap pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan mengikuti prosedur yang benar, dengan perencanaan matang dan keterlibatan tenaga ahli. Tidak boleh ada lagi bangunan publik yang berdiri tanpa dasar izin yang sah.

Ketiga, transparansi dan keterlibatan publik. Pembangunan di lingkungan pesantren tidak bisa dianggap urusan internal semata. Harus ada keterbukaan mengenai sumber dana, proses pembangunan, serta pengawasan dari masyarakat dan lembaga independen.

Amanah Keagamaan dan Kemanusiaan

Tragedi Al Khoziny mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah bagian dari amanah keagamaan. Dalam ajaran Islam, menjaga nyawa manusia adalah kewajiban utama. Maka, membangun rumah ibadah yang aman bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Sudah saatnya pembangunan di lingkungan keagamaan tidak hanya diukur dari niat dan semangat gotong royong, tetapi juga dari profesionalisme dan tanggung jawab terhadap keselamatan jiwa.

Duka Al Khoziny harus menjadi pelajaran besar. Jangan sampai musala atau pesantren lain mengalami nasib serupa. Karena sejatinya, tempat ibadah seharusnya menjadi tempat berlindung bukan tempat kehilangan.

(Tulisan ini dibantu Analisis data statistik oleh AI)


Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 73         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 218         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 372       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories