Home » Opini » Jejak Singkat yang Abadi: Dua Bulan Bersama Ustadz Jazir

Jejak Singkat yang Abadi: Dua Bulan Bersama Ustadz Jazir

admin 24 Des 2025 296

 

 

 

Oleh : Mas Azzam (Pernah Magang di Masjid Jogokariyan)

Tahun 2017 menjadi saksi takdir yang mempertemukan penulis dengan seorang tokoh besar—sejarawan sekaligus simbol kemakmuran masjid di Indonesia—beliau adalah Ustadz Muhammad Jazir, ASP. Saat itu, penulis sama sekali belum mengenal beliau. Bahkan bisa dibilang baru tahu bahwa beliau merupakan Dewan Syuro Masjid Jogokariyan. Masjid yang kala itu sedang viral di media sosial dengan jargon legendarisnya: saldo 0 rupiah.

Awalnya, penulis sama sekali tidak berniat menyelesaikan salah satu tugas akhir kampus, yaitu praktik kerja lapangan (PKL) mandiri ke Yogyakarta. Namun karena tuntutan tugas dan adanya rekomendasi dari salah seorang dosen, penulis akhirnya memutuskan berangkat ke Yogyakarta dan menyelesaikan kewajiban tersebut.

Setibanya di Jogokariyan, penulis mencoba menghubungi nomor yang diberikan oleh dosen. Tak disangka, nomor tersebut adalah milik Ustadz Muhammad Jazir, ASP. Karena belum mengetahui siapa beliau sebenarnya, penulis dengan penuh percaya diri langsung menelepon, dan alhamdulillah, panggilan itu langsung diangkat.

Setelah berbincang singkat, beliau memberikan arahan agar penulis tinggal di salah satu rumah wakaf. Kala itu, rumah tersebut kabarnya akan dibangun rumah sakit yang dikelola non-Muslim. Namun hari ini, rumah itu telah sah berstatus wakaf milik Masjid Jogokariyan. Lagi-lagi, rumah tersebut merupakan salah satu aset yang diperjuangkan oleh almarhum Ustadz Jazir.

Kurang lebih dua bulan penulis menimba ilmu di Masjid Jogokariyan. Dua bulan yang terasa singkat, namun penuh kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Selama waktu itu, penulis kerap membersamai Ustadz Jazir—menemani beliau mengisi kajian di pelosok-pelosok Yogyakarta, hingga menghadiri talkshow di gedung-gedung pemerintahan.

Dalam setiap perjalanan, beliau selalu menumpahkan wawasan tanpa henti. Tak berlebihan jika banyak orang menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. Ilmu dan cerita yang beliau sampaikan selalu berbeda, bahkan banyak yang belum pernah penulis temui di buku atau artikel mana pun.

Menariknya, penulis tak pernah melihat beliau tertidur di mobil untuk sekadar beristirahat. Ketika beliau berhenti berbicara, selalu ada buku di tangan yang menemani perjalanan hingga tiba di tujuan. Begitulah Ustadz Jazir—bahkan saat beristirahat pun, beliau tetap membaca.

Hal lain yang tak kalah berkesan adalah kebiasaan beliau setelah Subuh ketika tidak bepergian ke luar kota. Hampir selalu ada majelis ilmu nonformal—atau yang akrab disebut jandonan bada Subuh—hingga matahari terbit. Jandonan ini biasanya digelar di angkringan sebelah kantor DKM Masjid Jogokariyan. Tema yang dibahas selalu berganti dan relevan dengan realitas masyarakat saat itu. Dan yang paling ditunggu, setiap sesi selalu ditutup dengan sarapan yang ditraktir langsung oleh beliau. Bagi penulis yang saat itu masih mahasiswa, tentu ini adalah anugerah tersendiri.

Penulis juga mengalami satu momen heroik bersama beliau ketika Yogyakarta dilanda banjir. Saat itu, Ustadz Jazir berada di daerah pedalaman, sekitar satu jam dari Masjid Jogokariyan. Beliau mengabarkan bahwa mobilnya mogok akibat banjir dan terjebak. Tanpa berpikir panjang, tim Masjid Jogokariyan—dan penulis ikut di dalamnya—segera bergerak untuk menjemput beliau.

Sesampainya di lokasi, air sudah mencapai setengah badan mobil dan perlahan masuk ke dalam. Namun sopir tetap bersikeras melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, jalur utama menuju kota tertutup pohon besar yang tumbang. Ustadz Jazir mengajak kami turun dan berusaha membuka jalan sedikit demi sedikit. Namun karena ukuran pohon yang terlalu besar, keterbatasan alat, serta listrik yang padam, kami akhirnya meminta bantuan tim masjid lainnya. Alhamdulillah, sebelum bantuan tiba, ada kendaraan lain yang membawa golok sehingga jalan berhasil dibuka dan bisa dilewati secara bergantian.

Keesokan paginya, Ustadz Jazir langsung menginstruksikan para takmir untuk menggalang donasi bagi korban banjir. Respons masyarakat Jogokariyan luar biasa. Donasi mengalir dalam berbagai bentuk—uang, makanan, pakaian, hingga kendaraan untuk konvoi bantuan. Masjid juga menyiapkan dokter hewan untuk vaksinasi unggas dan hewan peliharaan, serta membeli karpet dan membersihkan masjid-masjid yang terdampak banjir.

Dua bulan berlalu begitu cepat. Tibalah saat perpisahan dengan keluarga besar Masjid Jogokariyan. Malam itu terasa istimewa karena penulis ditawari nebeng langsung bersama Ustadz Jazir menuju Surabaya, sekaligus diantar pulang ke Lamongan.

Di perjalanan, penulis sempat menunjuk beberapa masjid di kampung halaman.
“Ust, yang itu masjid Muhammadiyah, yang di depan masjid jami milik desa, dikelola warga NU. Nanti di depan lagi masjid Muhammadiyah,” kata penulis.
Ustadz Jazir tersenyum lalu berkata, “Lho, masjid Islam yang mana ya, Mas Azzam?”

Sesampainya di rumah, beliau dan rombongan disambut ibu serta keluarga. Kami menikmati teh hangat sambil berbincang ringan sekitar 15 menit, sebelum akhirnya beliau melanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta.

Hari itu menjadi memori yang tak akan pernah penulis lupakan—seorang tokoh karismatik dan legenda masjid mau singgah dan minum teh sederhana di rumah kampung, di pelosok Lamongan. Begitulah Ustadz Jazir, sosok yang mudah akrab dengan siapa pun.

Kurang lebih tiga tahun penulis tidak bertemu beliau. Hingga suatu hari, ada undangan kajian di sebuah Masjid Muhammadiyah di Lamongan. Alhamdulillah, setelah tiga tahun berpisah, Allah mempertemukan kembali kami. Yang istimewa, beliau masih mengingat nama penulis. Bahkan kebiasaan lama masih melekat—ketika hendak ke toilet atau berwudu, beliau meminta tolong agar HP dan dompetnya dibawakan. Dan itu kembali terjadi. Sungguh kebahagiaan tersendiri bisa dipercaya seperti dulu.

Usai kajian, beliau berpamitan,
“Mas Azzam, saya pamit dulu ya. Ini langsung mau ke Yogya. Besok ada acara lagi. Assalamu’alaikum.”
“Nggeh, Ust. Wa’alaikumussalam,” jawab penulis.

Alhamdulillah, di akhir tahun 2025 ini, penulis kembali bersua dengan beliau di sebuah masjid di kawasan Pajajaran, Bogor. Pertemuan ini terasa seperti pertemuan terakhir. Kami sempat mengabadikan momen tersebut. Beliau masih ingat penulis, bahkan masih bertanya,
“Mas Azzam masih sering pulang kampung, nggak?”

Ya Rabb, betapa banyak manusia yang beliau jumpai, namun serpihan debu seperti penulis masih beliau ingat. Ingatannya begitu kuat. Meski langkah beliau kini tak lagi mulus dan sudah menggunakan kursi roda.

Pada akhirnya, penulis benar-benar merasa kehilangan sosok besar seperti beliau. Meski hanya dua bulan bersama, pelajaran yang ditinggalkan begitu dalam dan berharga.

Semoga Allah menempatkan almarhum Ustadz Muhammad Jazir, ASP di tempat yang paling mulia, bersama barisan kekasih-Nya, Nabi Muhammad ﷺ. Aamiin.

Bersambung_

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 73         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 218         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 372       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories