Home » Opini » Pola Hidup Digital: Apakah Kita Menuju Brain Rot?

Pola Hidup Digital: Apakah Kita Menuju Brain Rot?

Abdulloh Azzam 14 Jan 2025 208

Oleh : Abdulloh Azzam (CEO WaroengCangkem)

Istilah brain rot menjadi topik yang semakin relevan di era digital saat ini. Meskipun secara harfiah berarti “pembusukan otak,” brain rot dalam konteks modern merujuk pada dampak negatif konsumsi konten digital yang berlebihan. Generasi muda, yang sebagian besar tumbuh dengan teknologi di ujung jari mereka, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap fenomena ini. Apakah kita sudah menyadari bahaya ini dan dampaknya di masyarakat?

Konsumsi Konten Digital: Antara Manfaat dan Bahaya

Media digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, paparan konten tidak bermutu, seperti video viral yang bersifat hiburan semata, memengaruhi pola pikir dan perilaku. Sebuah survei dari We Are Social (2023) mencatat bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 8 jam sehari di depan layar, sebagian besar untuk media sosial. Ini menjadi alarm bagi kita karena konsumsi konten dangkal berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an untuk menggunakan waktu dengan bijak, sebagaimana dalam QS. Al-‘Asr (103:1-3): “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan untuk hiburan yang melalaikan.

Selain itu, overstimulasi otak akibat paparan informasi yang terus-menerus dapat melemahkan kemampuan fokus. Ketika otak selalu “terganggu” oleh notifikasi dan umpan balik instan, sulit bagi seseorang untuk merenung atau mempelajari sesuatu secara mendalam. Generasi muda, khususnya pelajar, menghadapi tantangan ini di tengah kebutuhan akademik yang menuntut konsentrasi tinggi.

Dampak Nyata di Lapangan

Fenomena brain rot telah memunculkan berbagai dampak yang dapat diamati di masyarakat. Pertama, produktivitas kerja menurun. Banyak karyawan yang kesulitan menyelesaikan tugas karena terganggu oleh kebiasaan “scrolling” tanpa henti. Hal ini berdampak pada performa perusahaan secara keseluruhan.

Kedua, kesehatan mental generasi muda semakin memburuk. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan peningkatan kasus kecemasan dan depresi pada remaja selama beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor penyebabnya adalah tekanan dari media sosial, yang sering kali menciptakan standar hidup yang tidak realistis.

Ketiga, hubungan sosial menjadi dangkal. Sebuah penelitian oleh Universitas Indonesia (2022) menemukan bahwa 60% responden mengaku lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan teks daripada berbicara langsung. Ketergantungan pada perangkat digital mengikis kemampuan komunikasi interpersonal, yang merupakan fondasi dari hubungan sosial yang sehat.

Solusi untuk Mengatasi Brain Rot

Mengatasi brain rot memerlukan pendekatan holistik, mulai dari individu hingga kebijakan pemerintah. Edukasi literasi digital harus menjadi prioritas. Orang tua dan guru perlu mengajarkan cara bijak menggunakan teknologi, termasuk memilih konten berkualitas dan mengelola waktu layar.

Selain itu, pembatasan waktu penggunaan perangkat elektronik dapat membantu mengurangi dampak overstimulasi. Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang sering kali manusia lalai darinya adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam memanfaatkan waktu luang dengan aktivitas yang bermanfaat.

Aktivitas fisik dan sosial juga perlu didorong. Pemerintah daerah dapat mengadakan program olahraga atau seni yang melibatkan anak muda, sehingga mereka memiliki alternatif produktif di luar dunia digital. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial.

Penting juga bagi pemerintah dan penyedia platform untuk mempromosikan konten edukatif. Konten yang mendidik harus dibuat lebih menarik sehingga mampu bersaing dengan konten hiburan yang sering kali lebih populer. Misalnya, kolaborasi antara kreator konten dan institusi pendidikan dapat menjadi langkah strategis untuk mencapai tujuan ini.

Renungan: Masa Depan Generasi Digital

Brain rot adalah tantangan yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Jika dibiarkan, generasi muda akan kehilangan potensi terbaik mereka karena terjebak dalam pola konsumsi konten yang tidak sehat. Solusi bukan hanya soal pembatasan, tetapi juga tentang menciptakan budaya digital yang lebih sehat dan berorientasi pada pengembangan diri.

Generasi masa depan membutuhkan pola hidup yang seimbang antara dunia digital dan realitas. Dengan mengelola penggunaan teknologi secara bijak, kita tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental dan fisik individu, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih produktif, kreatif, dan harmonis. Pilihan ada di tangan kita.

1 Komentar

  • Apapun kalau berlebihan tidak baik, yang baikpun akan menjadi tidak baik kalau berlebihan. Tinggallagi mengukur keseimbangan, kepantasandan kewajaran menjadi terukur serta kecerdasan menggunakan alat ukur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 73         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 218         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 372       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories