Home » Opini » Vasektomi Bukan Solusi untuk Mengatasi Kemiskinan

Vasektomi Bukan Solusi untuk Mengatasi Kemiskinan

Abdulloh Azzam 07 Mei 2025 392

Oleh : Dr. KH. Akhmad Alim, Lc, M.A

Disunting Oleh : Abdulloh Azzam

Beberapa hari terakhir, masyarakat ramai membicarakan wacana baru soal pengendalian angka kelahiran melalui vasektomi. Gagasan ini muncul karena ada anggapan bahwa keluarga miskin cenderung memiliki banyak anak, dan hal itu dianggap memperparah kondisi kemiskinan mereka. Meski kemudian dijelaskan bahwa program keluarga berencana (KB) tidak hanya lewat vasektomi, melainkan bisa menggunakan metode lain yang lebih fleksibel, isu ini tetap menimbulkan pertanyaan besar, khususnya bagi umat Islam.

Vasektomi dan Kebiri: Apa Bedanya, dan Bagaimana Islam Memandangnya?
Vasektomi adalah tindakan medis yang memotong saluran sperma pria, sehingga ia tidak bisa lagi membuahi pasangannya. Tujuannya adalah mencegah kehamilan secara permanen. Dalam pandangan Islam, tindakan ini termasuk dalam kategori kebiri—yaitu membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Nabi Muhammad saw. secara tegas melarang kebiri, bahkan dalam kondisi darurat seperti perang.

Islam Menganjurkan Memiliki Keturunan
Islam memandang anak sebagai berkah, bukan beban. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk menikah dengan pasangan yang penyayang dan subur, karena beliau akan bangga dengan banyaknya umat Islam di akhirat kelak. Jadi, memiliki anak banyak bukanlah masalah selama keluarga bisa mengasuh dan mendidiknya dengan baik.

Masalah Utama Kemiskinan Bukan pada Jumlah Anak
Kemiskinan di Indonesia tidak semata-mata karena banyak anak, melainkan karena masalah yang lebih besar—yakni pengelolaan sumber daya yang tidak adil. Kekayaan alam dan ekonomi lebih banyak dikuasai oleh kelompok tertentu, sementara masyarakat luas kesulitan mengakses peluang yang sama. Dalam Islam pun, hal ini ditegaskan bahwa harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya saja. Maka, solusi kemiskinan harus menyasar akar permasalahan, bukan dengan menyalahkan jumlah anak.

Peran Penting Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Penting bagi semua pihak, termasuk tokoh agama, lembaga pendidikan, dan pesantren, untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang isu-isu seperti vasektomi. Jangan sampai masyarakat terjebak dalam kebijakan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai agama dan keluarga.

Sebagai penutup, perlu diingat bahwa membangun keluarga dan bangsa yang sejahtera tidak cukup hanya dengan membatasi kelahiran. Yang jauh lebih penting adalah memperbaiki sistem, membuka akses ke pendidikan dan ekonomi, serta menegakkan keadilan sosial. Semoga ke depan, setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada rakyat dan tidak mengorbankan nilai-nilai yang kita junjung bersama.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
74 Kg Emas: Di Balik Barang Bukti, Ada Krisis Kepercayaan

admin

11 Jul 2026

Post Views: 73         Oleh: Mas Azzam (Pemred pcmbogorbarat.com) Sebanyak 74 kg emas gelondongan dan miliaran rupiah uang tunai diamankan. Kabar ini sempat menggegerkan media sosial di seluruh Indonesia. Konon, emas tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang melibatkan salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Di sisi lain, opini yang berkembang …

Di Balik My Little Bolu Ketan: Dolar Terkapar, Komedi Jadi Pelarian Krisis

admin

03 Jun 2026

Post Views: 474 Oleh: Mas Azzam (Sekretaris PC Muhammadiyah Bogor Barat) Per 4 Juni ini, 1 USD telah menyentuh Rp18.005. Kanda Bahlil masih fokus mencari talenta pencipta lagu “My Little Bolu Ketan”. Sementara itu, bos MGB digeledah dan akhirnya keluar dari gedung kejaksaan memakai rompi merah muda (pink) sambil diborgol, berjalan santai dengan wajah sedikit …

Kemarau di Depan Mata: Belajar Mitigasi Krisis dari Nabi Yusuf AS

admin

29 Apr 2026

Post Views: 218         Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University) BMKG pada bulan Maret kemarin merilis data prediksi musim kemarau tahun 2026. Intinya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April, sebagian pada Mei, dan ada pula yang baru mulai Juni 2026. Pergerakannya dimulai dari …

Perempuan, Mimpi, dan Waktu yang Terus Mengejar

admin

26 Mar 2026

Post Views: 401 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Ketua IMM IPB University 2016-2018) Menjadi perempuan bukanlah hal yang sederhana. Dalam setiap fase kehidupan, selalu ada tuntutan yang datang silih berganti. Saat belum menikah, pertanyaan yang muncul adalah, “kapan menikah?” Setelah menikah, berubah lagi menjadi, “kapan punya anak?” Bahkan ketika sudah memiliki anak, pertanyaan itu belum berhenti—“kapan …

Ketika Nisab Terasa Semakin Tinggi: Refleksi Zakat di Tengah Perubahan Ekonomi

admin

10 Mar 2026

Post Views: 372       Oleh : Abdul Rasyid, S.E. (Personal Finance & Investment Specialist) Nisab untuk zakat mal—khususnya zakat penghasilan, perdagangan, serta zakat investasi seperti emas, saldo rekening menganggur, deposito, saham, reksadana, dan sejenisnya—umumnya menggunakan standar 85 gram emas 24 karat. Jika melihat harga emas hari ini, 6 Maret 2026, harga emas Antam bahkan …

Ramadan: Buminya Satu, Mengapa Kita Sulit Bersatu?

admin

14 Feb 2026

Post Views: 239 Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Sekretaris PCM Banjarharjo Brebes) Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, umat Islam kerap dihadapkan pada perbedaan penetapan awal bulan. Perbedaan ini sejatinya bukan karena keinginan untuk menyelisihi, melainkan akibat perbedaan metode dalam memahami dalil dan menentukan awal bulan hijriah. Dalam ilmu falak dikenal istilah matlak, yaitu wilayah berlakunya hasil …

Hot Categories